Jakarta – Pemerintah Australia menyiapkan dana pinjaman tanpa bunga hingga 1 miliar dolar Australia atau setara Rp11,7 triliun.
Pinjaman ini khusus diberikan untuk membantu pelaku usaha yang terdampak lonjakan harga Bahan Bakar Minyak (BBM).
Perdana Menteri Australia, Anthony Albanese, menyatakan bantuan akan difokuskan pada sektor transportasi dan produsen pupuk.
Menurutnya, sektor-sektor ini krusial dalam menjaga rantai pasok nasional.
“Tidak ada pemerintah yang bisa menjanjikan untuk menghilangkan seluruh tekanan dari krisis ini.Tetapi kami bisa menjadi penyangga dari dampak terburuknya,” ujar Albanese, dikutip dari Reuters, Kamis (2/4).
Pinjaman murah ini diharapkan membantu pelaku usaha bertahan dari tekanan biaya energi yang meningkat.
Selain itu, pinjaman ini juga bertujuan memastikan distribusi barang dan layanan penting tetap berjalan lancar.
Kebijakan ini diambil di tengah tekanan global akibat konflik di Timur Tengah yang mengganggu pasokan energi.
Australia sendiri mengimpor lebih dari 80 persen kebutuhan bahan bakarnya.
Kondisi ini membuat Australia sangat rentan terhadap gejolak harga dan ketersediaan global.
Selain pinjaman, pemerintah Australia juga mempercepat program investasi energi bersih senilai 5 miliar dolar Australia atau Rp58,51 triliun.
Dana ini akan digunakan untuk memperkuat rantai pasok energi alternatif.
Pemerintah juga akan meningkatkan produksi bahan bakar rendah karbon seperti etanol dan biodiesel.
Pemerintah Australia juga telah mengambil langkah jangka pendek untuk meredam dampak kenaikan harga BBM.
Langkah-langkah tersebut termasuk melepas cadangan energi, memangkas pajak bahan bakar, dan melonggarkan standar BBM sementara.
Pemerintah negara bagian di australia juga sepakat untuk tidak menaikkan pajak atas transaksi BBM.
Albanese sebelumnya mengingatkan dampak ekonomi dari konflik global ini berpotensi berlangsung selama beberapa bulan ke depan.
Dampak ini akan dirasakan oleh rumah tangga maupun pelaku usaha.
Situasi ini memicu kekhawatiran publik terhadap ketersediaan BBM.
Aksi warga memborong bahan bakar menggunakan jeriken sempat viral di media sosial.
Fenomena ini mencerminkan kembali aksi panic buying.
Analis menilai perilaku tersebut dipicu oleh ketidakpastian dan persepsi masyarakat terhadap potensi krisis.
Lonjakan harga BBM yang mendekati 3 dolar Australia per liter di beberapa kota besar turut mendorong masyarakat membeli lebih banyak.
Tekanan juga terlihat dari distribusi di lapangan.
Sekitar 470 SPBU dilaporkan kehabisan setidaknya satu jenis BBM di berbagai wilayah seperti Victoria, Queensland, dan New South Wales.
pemerintah Australia mengimbau masyarakat untuk membeli BBM sesuai kebutuhan.
Imbauan ini bertujuan menjaga stabilitas distribusi.
Pemerintah juga menyiapkan koordinasi nasional lanjutan melalui rapat darurat kabinet untuk merespons krisis energi yang masih berkembang.







