JAKARTA – Kinerja emiten properti diprediksi tetap stabil setelah Bank Indonesia (BI) memutuskan mempertahankan suku bunga acuan atau BI-Rate di level 4,75% pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) periode 21–22 April 2026. Keputusan ini dinilai memberikan dampak netral terhadap sektor properti nasional.
Analis Fundamental BRI Danareksa Sekuritas, Abida Massi Armand, mengungkapkan bahwa level bunga saat ini tidak membuat beban cicilan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) memburuk, namun belum cukup rendah untuk memicu lonjakan permintaan yang signifikan. Proyeksi kinerja emiten properti pada 2026 pun diperkirakan berada dalam tren stabil hingga meningkat secara moderat.
Sejumlah sentimen positif masih menopang sektor ini, di antaranya program pembangunan 3 juta rumah, insentif Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) hingga 2027 untuk hunian seharga Rp1 miliar hingga Rp3 miliar, serta ketahanan segmen menengah ke atas yang cenderung bertransaksi tunai.
Di sisi lain, tantangan tetap ada. *Associate Director of Research and Investment* Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus, menyoroti bahwa tensi geopolitik di Timur Tengah berpotensi mendongkrak harga energi. Kondisi ini memicu masyarakat untuk lebih menahan daya beli dan konsumsi, terutama pada barang mewah.
Nico menambahkan, perilaku masyarakat yang cenderung menghindari kredit besar sudah terbentuk sejak pandemi COVID-19. Meski demikian, ia menyarankan investor untuk melirik saham emiten dengan fundamental kuat seperti BSDE, CTRA, dan SMRA, serta mencari perusahaan yang menawarkan *dividend yield* di atas 5%.
Senada dengan hal tersebut, *Senior Market Analyst* Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menilai sektor properti masih menunjukkan resiliensi. Kebijakan pemerintah dan suku bunga yang relatif stabil menjadi katalis utama. Nafan menyarankan investor jangka panjang untuk fokus pada emiten yang memiliki cadangan lahan (*landbank*) luas dan pendapatan berulang (*recurring income*) yang kuat, seperti BSDE, CTRA, dan SMRA.
Sepanjang tahun berjalan (*year to date*), indeks IDX Properties and Real Estate mencatatkan koreksi sebesar 16,17% setelah mengalami reli panjang pada 2025. Koreksi ini dinilai sebagai penyesuaian struktural akibat aksi ambil untung (*profit taking*) dan aliran dana keluar asing.
Abida melihat koreksi saat ini justru membuka peluang bagi investor. Saham seperti PWON dan DMAS dinilai sangat defensif berkat pendapatan stabil dari sewa mal dan kawasan industri, sehingga cocok bagi mereka yang mengincar dividen.
Bagi investor yang mengejar *capital gain*, momentum saat ini dianggap tepat untuk masuk ke pasar karena valuasi saham properti yang sudah jauh lebih wajar dengan diskon besar terhadap *Revalued Net Asset Value* (RNAV).
Abida merekomendasikan beli untuk saham BSDE, CTRA, SMRA, dan PWON dengan target harga masing-masing Rp1.450, Rp1.600, Rp800, dan Rp5.640 per saham.







