JAKARTA – Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang kini menembus level Rp18.000 diprediksi memicu lonjakan harga obat-obatan dan vitamin di pasar domestik. Ketergantungan industri farmasi dalam negeri terhadap bahan baku impor yang mencapai 85-90 persen menjadi pemicu utama fenomena ini.
Ketua Forum Konsumen Berdaya Indonesia (FKBI) Tulus Abadi mengungkapkan bahwa kenaikan harga ini menjadi keniscayaan yang akan memberikan efek domino bagi masyarakat. Kondisi tersebut dikhawatirkan menurunkan rasio konsumsi obat yang saat ini sudah tergolong rendah di Indonesia.
“Ambruknya kurs rupiah akan menjadikan rasio konsumsi obat masyarakat Indonesia semakin menurun karena harga yang semakin mahal,” ujar Tulus dalam keterangan tertulis, Sabtu (6/6/2026).
Tak hanya membebani konsumen, lonjakan harga obat juga berpotensi mengganggu stabilitas finansial BPJS Kesehatan. Tulus menjelaskan, fasilitas kesehatan akan mengajukan klaim biaya yang lebih besar kepada BPJS Kesehatan, yang pada akhirnya akan menekan anggaran lembaga tersebut.
Di sisi lain, industri farmasi skala menengah hingga bawah menghadapi ancaman serius berupa kebangkrutan. Keterbatasan modal untuk membeli bahan baku impor membuat kegiatan produksi terhenti, yang berpotensi memicu gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK).
Menanggapi situasi ini, pemerintah memastikan akan mengambil langkah strategis. Kementerian Keuangan dan Bank Indonesia berkomitmen memperkuat koordinasi antara kebijakan fiskal dan moneter demi menstabilkan nilai tukar rupiah.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa optimistis sinergi kebijakan yang kuat akan mampu mengembalikan kepercayaan pasar. Langkah ini diharapkan dapat memicu penguatan nilai tukar rupiah secara signifikan dalam waktu dekat.
“Tentunya kalau kebijakannya sudah menyatu, sinergi penuh, seharusnya akan mengembalikan kepercayaan pasar ke rupiah sehingga mata uang kita akan menguat kembali,” pungkas Purbaya di Gedung DPR.







