Padang – Bitcoin (BTC) berpacu dengan waktu untuk menghindari penutupan tahun 2025 di zona merah. Mata uang kripto ini membutuhkan reli minimal 6,24% dalam beberapa hari terakhir perdagangan tahun ini.
Analis kripto mewaspadai potensi Bitcoin mencatatkan kinerja tahunan negatif pertama sejak *halving*, sebuah peristiwa penting dalam siklus Bitcoin.
Harga Bitcoin saat ini berada di kisaran US$ 87.747, masih di bawah harga pembukaan awal tahun yang berada di sekitar US$ 93.374.
Alex Puckrin, seorang analis kripto, menekankan urgensi situasi ini. “Masih ada tiga hari bagi Bitcoin untuk pulih dan menutup tahun di zona hijau. Jika tidak, ini akan menjadi tahun pasca-*halving* pertama Bitcoin yang ditutup melemah,” ujarnya, seperti dikutip dari Cointelegraph.
Proyeksi sebelumnya dari banyak analis menjanjikan harga Bitcoin mencapai US$ 180.000–US$ 250.000 pada tahun 2025, namun realitasnya jauh dari harapan.
Pada bulan Oktober, Bitcoin sempat mencetak rekor tertinggi sepanjang masa di atas US$ 125.000. Sayangnya, reli tersebut terhenti akibat gejolak pasar global yang memicu aksi jual masif di pasar kripto.
Sejak mencapai puncak tersebut, harga Bitcoin telah terkoreksi sekitar 30%, menciptakan level terendah lokal di sekitar US$ 80.000 pada bulan November.
Kondisi ini memicu perdebatan sengit di kalangan analis. Apakah fase *bull market* telah berakhir, ataukah ini hanya fase konsolidasi sebelum penguatan lebih lanjut?
Pergerakan Bitcoin juga masih berada di bawah rata-rata pergerakan 365 hari, level *support* krusial yang selama ini diandalkan.
Penembusan di bawah level tersebut mengindikasikan berakhirnya tren naik struktural yang telah berlangsung sejak tahun 2023.
Pelaku pasar kini fokus pada arah kebijakan moneter Amerika Serikat. Suku bunga yang lebih rendah dipandang sebagai katalis positif bagi aset berisiko, termasuk kripto, karena dapat meningkatkan likuiditas global.
Sepanjang tahun 2025, Federal Reserve (The Fed) telah memangkas suku bunga sebanyak tiga kali, masing-masing sebesar 25 basis poin (bps).
Namun, Ketua The Fed Jerome Powell menyampaikan panduan kebijakan yang cenderung hati-hati dalam pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) bulan Desember lalu.
“Tidak ada jalur kebijakan yang bebas risiko,” kata Powell, yang memunculkan keraguan pasar terkait kelanjutan pemangkasan suku bunga dalam waktu dekat.
Menurut FedWatch Tool dari CME Group, hanya 18,8% pelaku pasar yang memperkirakan The Fed akan kembali memangkas suku bunga pada pertemuan Januari 2026.







