Jakarta – PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA) berencana menggelontorkan dana besar untuk membeli kembali (buyback) hingga 825.740.293 lembar saham, atau setara 10% dari modal ditempatkan dan disetor penuh. Aksi korporasi ini diperkirakan menelan biaya hingga Rp 586,27 miliar.
Rencana buyback ini akan berlangsung mulai 25 Desember 2025 hingga 24 Maret 2026.
Manajemen TOBA menyatakan, buyback ini bertujuan untuk menjaga kepercayaan investor, meningkatkan nilai pemegang saham, serta menstabilkan harga saham di tengah kondisi pasar yang kurang mendukung.
Dana untuk buyback berasal dari kas internal perusahaan dan diklaim tidak akan mengganggu kemampuan keuangan TOBA dalam memenuhi kewajiban yang akan datang.
Menurut Founder Republik Investor, Hendra Wardana, rencana buyback TOBA ini merupakan salah satu aksi korporasi paling agresif di sektor energi pada akhir 2025 hingga awal 2026.
“Secara teoretis, ini memberikan dukungan struktural terhadap harga saham karena jumlah saham beredar berkurang dan potensi *earning per share* (EPS) meningkat,” jelas Hendra.
Buyback ini juga dianggap sebagai sinyal kepercayaan diri manajemen bahwa valuasi saham TOBA saat ini belum mencerminkan nilai fundamental perusahaan.
Hendra menambahkan, bagi investor jangka menengah-panjang, buyback ini bisa menjadi pendorong kepercayaan, terutama di tengah transisi TOBA dari bisnis batu bara menuju energi bersih.
Namun, Hendra mengingatkan bahwa reaksi pasar terhadap buyback ini tidak berdiri sendiri. Prospek saham TOBA pasca-buyback akan sangat bergantung pada fundamental perusahaan di tahun 2026.
Sebagai informasi, pada sembilan bulan pertama 2025, pendapatan konsolidasian TOBA tercatat sebesar US$ 288,2 juta, turun 14% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
TOBA juga menderita rugi bersih US$ 127,37 juta per September 2025, berbanding terbalik dengan laba bersih US$ 34,83 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Meskipun demikian, Hendra menilai bahwa kondisi ini merupakan biaya transisi menuju model bisnis yang lebih berkelanjutan.
Pada tahun 2026, kinerja TOBA berpotensi membaik seiring dengan kontribusi penuh dari segmen pengelolaan limbah dan solusi lingkungan, serta stabilisasi keuangan pasca penerbitan obligasi Rp 500 miliar.
Kombinasi buyback dan penataan liabilitas ini diharapkan memberikan ruang bagi TOBA untuk menata ulang neraca dan arus kas secara lebih sehat.
Sentimen positif juga didorong oleh tren global yang mendukung bisnis hijau dan ekonomi sirkular, yang berpotensi membuka akses pendanaan lebih murah dan memperluas basis investor institusi.
Namun, Hendra juga mengingatkan untuk mencermati potensi tekanan kas akibat buyback yang besar, ketidakpastian waktu monetisasi bisnis hijau, serta kontribusi batu bara yang semakin mengecil.
Secara teknikal, saham TOBA saat ini masih berada dalam fase downtrend dan berpotensi melanjutkan koreksi untuk menguji area support psikologis di level Rp 640 – Rp 670 per saham.
Hendra memberikan rekomendasi *speculative buy* atau *buy on weakness* untuk saham TOBA dengan target harga Rp 780 – Rp 820 per saham, dengan catatan level support di Rp 640 – Rp 670 per saham mampu bertahan dan buyback terealisasi optimal.







