Tutup
EkonomiInvestasiNews

Dalio Ungkap Alasan Emas dan Bitcoin Terus Berkilau

222
×

Dalio Ungkap Alasan Emas dan Bitcoin Terus Berkilau

Sebarkan artikel ini
ray-dalio:-emas-dan-bitcoin-punya-prospek-cerah-di-tengah-perubahan-kebijakan-the-fed-dan-utang-jumbo-as
Ray Dalio: Emas dan Bitcoin Punya Prospek Cerah di Tengah Perubahan Kebijakan The Fed dan Utang Jumbo AS

Jakarta – Miliarder ray Dalio, pendiri Bridgewater Associates, memberikan pandangannya terkait kebijakan moneter Amerika Serikat (AS). Ia menyebut kebijakan tersebut berpotensi mengguncang pasar aset global.

Dalio bahkan menyebut emas dan Bitcoin berpotensi menjadi primadona investasi.

Menurut Dalio, langkah Federal Reserve (The Fed) mengakhiri quantitative tightening (QT) pada 1 Desember 2025 adalah sinyal pelonggaran moneter. Hal ini berpotensi mendongkrak harga aset berisiko.

Ketua The Fed,Jerome Powell,menyebut langkah ini sebagai “housekeeping teknis”. Tujuannya adalah untuk memastikan cadangan likuiditas tumbuh seiring kebutuhan sistem perbankan.

The Fed akan beralih ke kebijakan balance sheet reinvestments untuk menjaga cadangan perbankan tetap stabil.

Dalio melihat keputusan ini sebagai sinyal penting dalam Big Debt Cycle atau siklus utang besar.Ia menilai kondisi saat ini unik karena The Fed justru memangkas suku bunga sekaligus berpotensi memperluas neraca keuangannya.

Di sisi lain, defisit fiskal AS masih tinggi, di atas US$1,8 triliun per tahun. Pasar obligasi menunjukkan credit spreads yang semakin sempit. Saham-saham berbasis kecerdasan buatan (AI) diperdagangkan pada valuasi bubble berdasarkan indikator Dalio.

“Ini bukan stimulus di tengah krisis, tetapi stimulus di tengah gelembung,” ujar Dalio.

Menurutnya,kombinasi kebijakan moneter longgar dan defisit besar menciptakan debasement trade.Ini adalah mekanisme ketika investor mencari aset yang nilainya lebih tahan terhadap pelemahan mata uang.

dalam situasi ini, emas dan Bitcoin berpotensi menjadi pilihan utama.

Emas sudah lama dikenal sebagai safe haven terhadap inflasi. Sementara Bitcoin memiliki karakteristik serupa dengan pasokan terbatas 21 juta koin.

Dalio menambahkan, pelemahan imbal hasil riil (real yield) dan ekspansi neraca bank sentral mendorong rotasi modal ke aset yang memiliki real return lebih tinggi atau kelangkaan struktural.

Fenomena serupa juga tercermin pada pergerakan Bitcoin sejak 2020,terutama setelah kehadiran ETF spot yang membuatnya semakin mudah diakses oleh investor institusional.

“Secara historis, emas terbukti mempertahankan nilai terhadap ekspansi jumlah uang beredar,” imbuh Dalio.

Sebagai perbandingan, pada periode pelonggaran The fed sebelumnya, neraca keuangan meningkat dari US$4 triliun menjadi US$9 triliun. Kenaikan likuiditas itu berkontribusi terhadap reli besar Bitcoin dari US$10.000 hingga menembus US$69.000 pada 2021.