Tutup
Teknologi

Deepfake Menggila, Verifikasi Identitas Digital Harus Lebih Kuat

268
×

Deepfake Menggila, Verifikasi Identitas Digital Harus Lebih Kuat

Sebarkan artikel ini
wajah-dan-suara-bisa-dicuri-ai,-penipuan-digital-kian-menggila
Wajah dan Suara Bisa Dicuri AI, Penipuan Digital Kian Menggila

Jakarta – Masyarakat kini harus lebih waspada terhadap penipuan digital yang semakin canggih. Akun palsu, foto editan AI, hingga panggilan video deepfake semakin sulit dibedakan dari aslinya.

Penyedia layanan identitas digital dan pencegahan penipuan, Vida, menyebut lemahnya verifikasi identitas digital menjadi celah utama bagi para pelaku kejahatan.

Pendiri dan Kepala Eksekutif Vida, Niki Santo Luhur, mengungkapkan bahwa kualitas konten manipulatif berkembang pesat dalam tiga tahun terakhir berkat teknologi generatif.

“Untuk bikin deepfake clone atau voice clone secara profesional, cuma perlu rekaman 15 menit,” ujar Niki.

“Dengan satu prompt, saya bisa bikin foto Anda di background mana pun, di konteks mana pun,” tambahnya.

Niki menjelaskan,kasus deepfake seringkali bermula dari penggunaan virtual camera yang memanipulasi wajah saat verifikasi.

Sistem yang gagal membedakan input asli dan manipulasi memungkinkan identitas palsu lolos dan digunakan untuk penipuan.ia mencontohkan kasus fraud device farm yang terhubung dengan 48 juta rekening global, serta peretasan aset kripto senilai 1,5 miliar dolar AS oleh kelompok peretas yang diduga didukung negara.

“Lima tahun lalu, hal seperti ini mungkin terdengar seperti episode di serial TV. Namun, sekarang ini nyata,” tegasnya.

Niki menegaskan,fenomena ini menjadi momentum untuk memperbarui standar keamanan digital.

Menurutnya, banyak modus penipuan digital berakar pada identitas yang tidak terverifikasi dengan kuat.

vida mengembangkan teknologi verifikasi dan autentikasi yang menjadikan identitas sebagai fondasi kepercayaan di ruang digital.

“Yang kita lihat sekarang, hampir semua masalah-masalah fraud sebenarnya muncul dari masalah identity,” jelas Niki.