Tutup
Regulasi

Gas Alam Ungguli Komoditas Energi Lain? Prospek Cerah 2026!

365
×

Gas Alam Ungguli Komoditas Energi Lain? Prospek Cerah 2026!

Sebarkan artikel ini

JAKARTA – Pasar energi global diperkirakan masih akan menghadapi tekanan hingga akhir tahun 2025, terutama akibat kelebihan pasokan. Di tengah tantangan ini, gas alam dipandang sebagai komoditas yang lebih menjanjikan, didukung oleh faktor musiman, kebutuhan industri, dan dinamika pasokan global.

Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) tercatat US$ 57,863 per barel, terkoreksi 19,32% secara *year-to-date* (ytd). Sementara itu, harga batu bara berada di level US$ 109,05 per ton, turun 12,93% ytd. Sebaliknya, harga gas alam justru naik 4,82% secara ytd, mencapai US$ 3,80 per MMBtu.

Founder Traderindo.com, Wahyu Tribowo Laksono, menjelaskan bahwa surplus pasokan global menjadi penyebab utama tekanan pada harga minyak mentah.

Badan Energi Internasional (IEA) mencatat kelebihan pasokan mencapai sekitar 4 juta barel per hari, dipicu oleh peningkatan produksi dari negara-negara OPEC+ dan non-OPEC seperti Amerika Serikat, Guyana, dan Brasil.

“Perlambatan ekonomi China dan adopsi kendaraan listrik juga turut menekan konsumsi bahan bakar fosil,” ungkap Wahyu.

Harga batu bara juga tertekan akibat melambatnya pertumbuhan ekonomi di China dan India, serta normalisasi rantai pasok global.

Meskipun permintaan domestik untuk pembangkit listrik masih stabil, pasokan batu bara yang melimpah dari negara eksportir utama, termasuk Indonesia, menekan harga di bawah level psikologis US$ 110 per ton.

Berbeda dengan minyak dan batu bara, harga gas alam mencatatkan kenaikan secara *year-to-date*. Wahyu menjelaskan, penguatan ini didorong oleh faktor musiman, terutama musim dingin di belahan bumi utara, serta gangguan pasokan gas pipa Rusia melalui Ukraina.

Permintaan *liquefied natural gas* (LNG) di Eropa dan Asia yang tetap kuat untuk menjaga ketahanan energi menjadi penopang utama harga gas alam sepanjang tahun ini.

Memasuki awal 2026, pasar komoditas energi diperkirakan memasuki fase moderasi dan stabilisasi. Harga minyak mentah diproyeksikan masih akan bergerak rendah, seiring kekhawatiran *oversupply* yang diprediksi berlanjut.

Batu bara diperkirakan bergerak stabil dengan tren melandai, mengingat permintaan dari pembangkit listrik konvensional mulai mencapai titik jenuh. Namun, produksi dari Indonesia berpotensi menahan penurunan harga yang lebih dalam.

Gas alam diperkirakan tetap bertahan di level tinggi pada kuartal I-2026, didorong puncak musim dingin. Meskipun demikian, risiko *oversupply* pada paruh kedua 2026 mulai membayangi, seiring beroperasinya sejumlah kapasitas LNG baru secara global.

Sejumlah sentimen kunci akan menjadi perhatian pasar pada awal 2026. Potensi perundingan atau resolusi konflik Rusia–Ukraina dapat membuka kembali pasokan energi Rusia ke pasar global.

Arah suku bunga The Fed yang lebih longgar diharapkan dapat mendorong aktivitas industri dan permintaan energi. Sementara itu, rencana penerapan bea keluar batu bara di Indonesia mulai 2026 berpotensi memengaruhi margin eksportir dan harga penawaran global.

Percepatan adopsi kendaraan listrik di China juga terus menjadi faktor struktural yang menekan pertumbuhan permintaan bensin dan minyak mentah secara jangka panjang.

Dengan berbagai faktor tersebut, Wahyu menilai gas alam menjadi komoditas energi yang paling layak dicermati pada 2026.

“Gas alam itu bahan bakar yang dibutuhkan di tengah pelemahan minyak dan batubara, terutama untuk mendukung sektor industri AI dan pembangkit listrik. Selain itu, volatilitas harga gas alam yang tinggi membuka peluang pergerakan harga lebih atraktif,” jelasnya.

Untuk kuartal I-2026, Wahyu membidik harga minyak mentah WTI di kisaran US$ 50 – US$ 65 per barel. Harga batu bara diperkirakan berada di rentang US$ 95 – US$ 120 per ton, tertahan oleh permintaan yang stagnan dan batas biaya produksi.

Sementara itu, harga gas alam diperkirakan bergerak di kisaran US$ 3 – US$ 6 per MMBtu, masih ditopang faktor musiman sebelum berpotensi melandai pada semester II-2026.

Regulasi

Pesan utama bagi investor di tahun 2026 adalah: “Jangan terkecoh oleh angka merah di layar.” Meskipun IHSG terkoreksi 13,8%, kondisi ini sangat berbeda dengan krisis ekonomi masa lalu. Harga saham turun karena faktor eksternal, namun fundamental perusahaan dan minat masyarakat justru meningkat pesat hingga menembus 20,32 juta SID. Ini adalah bukti …