Tutup
Regulasi

Purbaya Ungkap Penyebab Rupiah Melemah Akibat Sentimen Domestik

70
×

Purbaya Ungkap Penyebab Rupiah Melemah Akibat Sentimen Domestik

Sebarkan artikel ini

JAKARTA – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan bahwa pelemahan nilai tukar rupiah yang menembus level Rp17.200 per dolar Amerika Serikat dipicu oleh kombinasi faktor tekanan global dan sentimen negatif di dalam negeri.

Hingga penutupan perdagangan Jumat (24/4/2026), mata uang Garuda tercatat berada di level Rp17.228 per dolar AS. Menurut Purbaya, salah satu faktor domestik yang menekan rupiah adalah munculnya narasi atau *noise* yang mengesankan kondisi ekonomi Indonesia sedang terpuruk, termasuk isu terkait pengelolaan fiskal.

“Rupiah dipengaruhi oleh kondisi global dan ekspektasi. *Noise* di dalam negeri itulah yang membentuk ekspektasi negatif,” ujar Purbaya saat memberikan keterangan di kantor Badan Pendidikan dan Pelatihan Keuangan (BPPK), Jakarta.

Purbaya menegaskan bahwa pengendalian ekspektasi pasar sangat diperlukan. Namun, ia menekankan bahwa stabilisasi nilai tukar rupiah merupakan kewenangan penuh Bank Indonesia (BI), bukan ranah Kementerian Keuangan.

Menanggapi kondisi tersebut, Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti, menjelaskan bahwa pelemahan rupiah masih sejalan dengan tren mata uang di kawasan regional, dengan depresiasi *year to date* sebesar 3,54 persen. Ia menyebut meningkatnya ketidakpastian global akibat konflik di Timur Tengah menjadi pemicu utama.

Sebagai langkah konkret, Bank Indonesia terus meningkatkan intervensi di berbagai pasar, mulai dari pasar *offshore* (NDF), pasar spot, hingga DNDF. Selain itu, bank sentral memperkuat suku bunga instrumen moneter pro-market guna menjaga daya tarik aset domestik bagi investor.

Destry memastikan bahwa ketahanan ekonomi nasional masih terjaga, ditopang oleh cadangan devisa sebesar US$ 148,2 miliar pada akhir Maret 2026. Angka tersebut dinilai cukup kuat untuk memitigasi tekanan pasar.

“Bank Indonesia senantiasa hadir di pasar dan akan terus mengambil langkah yang diperlukan secara konsisten serta terukur untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah,” pungkas Destry.

Regulasi

Pesan utama bagi investor di tahun 2026 adalah: “Jangan terkecoh oleh angka merah di layar.” Meskipun IHSG terkoreksi 13,8%, kondisi ini sangat berbeda dengan krisis ekonomi masa lalu. Harga saham turun karena faktor eksternal, namun fundamental perusahaan dan minat masyarakat justru meningkat pesat hingga menembus 20,32 juta SID. Ini adalah bukti …