Tutup
Regulasi

BI Optimistis Rupiah Menguat Meski Ditekan Ketegangan Geopolitik Global

81
×

BI Optimistis Rupiah Menguat Meski Ditekan Ketegangan Geopolitik Global

Sebarkan artikel ini

JAKARTA – Bank Indonesia (BI) menyatakan bahwa nilai tukar rupiah saat ini masih berada di bawah nilai fundamentalnya (*undervalued*). Meski sempat melemah, otoritas moneter optimistis mata uang Garuda memiliki ruang besar untuk menguat kembali seiring dengan solidnya kondisi ekonomi domestik.

Hingga 21 April 2026, kurs rupiah berada di level Rp17.140 per dolar AS. Angka tersebut mencatatkan pelemahan sebesar 0,87 persen dibandingkan posisi pada akhir Maret 2026.

Gubernur BI, Perry Warjiyo, menegaskan bahwa fundamental ekonomi Indonesia yang kuat menjadi modal utama bagi penguatan rupiah ke depan. Ketahanan ini dinilai tetap terjaga meski saat ini tengah menghadapi tantangan global, termasuk dampak dari konflik geopolitik di Iran.

Perry mengakui bahwa ketegangan di Iran memberikan tekanan eksternal yang cukup signifikan. Hal ini memicu kenaikan harga minyak dunia, penguatan mata uang dolar AS, serta peningkatan imbal hasil (*yield*) obligasi pemerintah Amerika Serikat. Kondisi tersebut memicu arus modal keluar (*capital outflow*) dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.

Menghadapi tantangan tersebut, BI terus mengoptimalkan bauran kebijakan moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran. Fokus utamanya adalah menjaga stabilitas ekonomi nasional sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi di tengah gejolak global.

Langkah konkret yang dilakukan BI adalah melakukan intervensi intensif di pasar *Non-Deliverable Forward* (NDF) luar negeri, serta transaksi *spot* dan *Domestic Non-Deliverable Forward* (DNDF) di pasar domestik.

Selain itu, BI memastikan cadangan devisa tetap mencukupi, yakni mencapai 148,2 miliar dolar AS pada akhir Maret 2026. Bank sentral juga terus meningkatkan daya tarik instrumen keuangan domestik dengan menyesuaikan suku bunga Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) guna menarik aliran modal asing.

Strategi ini dilakukan untuk menjaga inflasi agar tetap berada dalam sasaran target 2,5 persen plus minus 1 persen, sekaligus memperkuat ketahanan eksternal ekonomi Indonesia.

Regulasi

Pesan utama bagi investor di tahun 2026 adalah: “Jangan terkecoh oleh angka merah di layar.” Meskipun IHSG terkoreksi 13,8%, kondisi ini sangat berbeda dengan krisis ekonomi masa lalu. Harga saham turun karena faktor eksternal, namun fundamental perusahaan dan minat masyarakat justru meningkat pesat hingga menembus 20,32 juta SID. Ini adalah bukti …