Jakarta – Industri garmen Indonesia menghadapi ancaman serius di pasar Amerika Serikat (AS) akibat belum adanya kesepakatan tarif resiprokal yang menguntungkan. Kondisi ini membuat harga produk garmen Indonesia menjadi lebih mahal dibandingkan negara pesaing seperti Malaysia, Thailand, dan Vietnam.
Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) melaporkan bahwa harga garmen ekspor Indonesia saat ini sudah 6-8% lebih mahal dari produk serupa dari tiga negara tersebut, bahkan sebelum tarif resiprokal diberlakukan.
Jika tarif resiprokal sebesar 19% tetap diterapkan tanpa adanya perjanjian dagang yang membebaskan bea masuk, harga garmen Indonesia bisa melonjak hingga 27% lebih tinggi di AS dibandingkan kompetitor.
Kondisi ini mengkhawatirkan karena AS merupakan pasar ekspor terbesar bagi industri garmen dan tekstil Indonesia. Pada periode Januari-Maret 2025, ekspor tekstil dan alas kaki Indonesia ke AS mencapai US$ 1,855 miliar atau sekitar Rp 31,2 triliun.
Kepala BPS, Amalia Adininggar Widyasanti, mengungkapkan bahwa AS menjadi tujuan utama ekspor pakaian dan aksesoris rajutan (63,40%), pakaian bukan rajutan (42,9%), dan alas kaki (34,1%) dari Indonesia.
Direktur Eksekutif API, Jemmy Kartiwa, menjelaskan bahwa biaya produksi garmen di Indonesia memang lebih tinggi dibandingkan negara tetangga akibat biaya bunga, energi, dan upah tenaga kerja. Masalah ini diperparah dengan biaya logistik yang kurang efisien.
“Selain itu, mereka punya biaya logistik yang lebih baik karena koneksi pelabuhan yang lebih terkoneksi. Hal ini membuat harga garmen dari Indonesia kalah akibat hal tersebut,” kata Jemmy.
API mendesak pemerintah untuk segera menyelesaikan negosiasi perjanjian dagang tarif resiprokal dengan AS dan memastikan garmen masuk dalam daftar komoditas yang dibebaskan dari bea masuk.
Jemmy Kartiwa juga mendorong pabrikan garmen untuk meningkatkan impor kapas dari AS sebagai upaya menekan tarif. Langkah ini diharapkan dapat menyeimbangkan neraca dagang antara kedua negara.
“Kami benar-benar berharap Presiden Prabowo dan Menko Perekonomian memberikan atensi penuh terkait negosiasi tarif. Ini bukan demi kami sebagai pengusaha, tetapi sebagai bentuk keberpihakan negara kepada dunia usaha sektor padat karya,” tegas Jemmy.
Tanpa adanya solusi konkret, industri garmen Indonesia terancam kehilangan pangsa pasar di AS dan berpotensi mengancam jutaan pekerja di sektor padat karya ini.







