Jakarta – Tekanan kerja dan tuntutan digital yang tinggi memicu fenomena baru di kalangan pekerja: microretirement. Banyak yang memilih jeda panjang untuk memulihkan diri dari burnout.
Strategi microretirement ini memungkinkan pekerja mengambil istirahat beberapa minggu hingga bulan, lalu kembali bekerja. Tujuannya untuk menjaga keseimbangan hidup dan kesehatan mental.
Mengapa microretirement semakin populer? Harapan hidup yang lebih panjang membuat pekerja merasa tak realistis menunggu pensiun di usia senja.
“Mini pensiun” di tengah karier dianggap sebagai solusi untuk menemukan kembali motivasi kerja. Namun, keputusan ini juga memiliki konsekuensi finansial dan profesional.
Apa sebenarnya microretirement?
Dilansir dari the Week, microretirement adalah jeda panjang dari pekerjaan dengan rencana kembali bekerja.Waktu ini bisa diisi dengan liburan,hobi,atau proyek pribadi.
Berbeda dengan cuti tahunan, microretirement tidak dibayar dan dilakukan sebagai bentuk pemulihan diri.
Ada yang memilih resign lalu melamar lagi setelah siap, ada pula yang membuat kesepakatan unpaid break dengan perusahaan. Bahkan, pemilik usaha bisa menghentikan operasi bisnis sementara.
Fenomena ini berkembang seiring menurunnya tingkat keterikatan pekerja.Laporan Gallup menunjukkan hanya 21% pekerja global yang merasa engaged pada 2024.
Generasi Z menjadi yang terdepan dalam mengadopsi microretirement, karena mereka memprioritaskan work-life balance. Selain itu,banyak yang ingin melakukan perjalanan dan petualangan selagi muda dan sehat.
Haruskah Anda mencobanya?
jeda panjang dari pekerjaan sebenarnya bukan hal baru. Akademisi dan pekerja teknologi sudah lama mengenal sabbatical.
Namun, para ahli melihat microretirement semakin penting karena usia bekerja yang terus meningkat.
Pakar perjalanan, Michael edwards, menekankan urgensi mengambil jeda lebih awal. Usia hidup yang lebih panjang membuat jeda panjang bukan lagi kemewahan, tetapi kebutuhan.







