Tutup
Regulasi

Harga Properti di Balikpapan Melandai, BI Soroti Permintaan yang Masih Tertahan

118
×

Harga Properti di Balikpapan Melandai, BI Soroti Permintaan yang Masih Tertahan

Sebarkan artikel ini

BALIKPAPAN – Tren harga properti di Kota Balikpapan, Kalimantan Timur, tercatat mengalami perlambatan pertumbuhan pada akhir 2025. Data Survei Harga Properti Residensial (SHPR) Bank Indonesia Balikpapan menunjukkan, Indeks Harga Properti Residensial (IHPR) pada triwulan IV 2025 hanya tumbuh 0,43 persen secara tahunan (*year-on-year*), melambat dibandingkan triwulan sebelumnya yang mencapai 0,67 persen.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Balikpapan, Robi Ariadi, menjelaskan bahwa perlambatan ini terjadi di seluruh tipe rumah. Rumah tipe besar tumbuh 1,27 persen, tipe menengah 0,07 persen, dan tipe kecil 0,14 persen. Angka tersebut mencerminkan permintaan pasar yang belum sepenuhnya pulih.

Kondisi ini dipengaruhi oleh berakhirnya sejumlah proyek strategis nasional di Balikpapan, seperti RDMP dan pembangunan IKN tahap pertama. Sementara itu, realisasi pembangunan IKN tahap kedua yang masih terbatas berdampak pada mobilitas pekerja di wilayah tersebut.

Meski pertumbuhan harga melambat, para pengembang tetap optimistis. Strategi yang dijalankan meliputi fokus pada penjualan rumah tipe kecil dan menengah yang lebih terjangkau, serta inovasi desain dan promosi.

Dari sisi volume, penjualan rumah baru tercatat sebanyak 119 unit pada triwulan IV 2025, turun 42,79 persen secara tahunan. Namun, angka kontraksi ini lebih baik dibanding triwulan sebelumnya yang mencapai 46,12 persen. Menariknya, segmen rumah tipe besar justru mencatat lonjakan penjualan signifikan sebesar 108 persen, dengan pangsa pasar mencapai 74 persen dari total penjualan.

Dalam hal pembiayaan, mayoritas masyarakat Balikpapan masih mengandalkan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) dengan pangsa mencapai 78 persen. Penyaluran KPR di wilayah ini tercatat sebesar Rp4,97 triliun, tumbuh 4,16 persen dengan kualitas kredit yang tetap terjaga.

Di sisi lain, tantangan bagi pengembang masih cukup kompleks, mulai dari kenaikan harga bahan bangunan, kendala perizinan, proses administrasi KPR, hingga keterbatasan lahan dan aspek perpajakan.

Tak hanya sektor residensial, properti komersial di Balikpapan juga mengalami tekanan. Indeks Harga Properti Komersial (IHPK) pada triwulan IV 2025 turun 0,36 persen secara tahunan. Penurunan ini menyentuh sektor perkantoran, hotel, dan apartemen, terutama akibat efisiensi pemerintah dalam kegiatan MICE dan melambatnya proyek strategis.

Kendati demikian, prospek properti di Balikpapan diprediksi akan kembali bergairah. Bank Indonesia optimistis rencana operasionalisasi industri hilirisasi dan kelanjutan pembangunan IKN tahap kedua pada 2026 akan kembali meningkatkan mobilitas pekerja, yang nantinya akan mendongkrak permintaan di sektor properti.

Regulasi

SumbarSumbarbisnis.com JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akhirnya terkoreksi setelah mencatat penguatan selama lima hari berturut-turut. Meski sempat dibuka di zona hijau, tekanan jual membuat IHSG berbalik arah dan ditutup melemah pada akhir perdagangan Rabu (15/4/2026). Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) melalui RTI, IHSG turun 0,68% atau terkoreksi 52,36 poin ke level 7.623,58. Baca Juga: Reli IHSG Terhenti SumbarSumbarbisnis.com Sell Asing…

Regulasi

SumbarSumbarbisnis.com JAKARTA. PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) baru-baru ini mengambil keputusan bisnis yang cukup penting, yakni bakal menjual seluruh saham tambang batubara Kestrel Coal Group Pty Ltd di Australia. Aksi ini dilakukan AADI melalui anak usahanya Adaro Capital Limited. Dalam keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI), Adaro Capital menandatangani Sale and Purchase Agreement (SPA) pada 14 April 2026 sehubungan dengan…