SURAKARTA – Bank Indonesia (BI) resmi meluncurkan Gerai CERDAS PeKA di Sekolah Vokasi Universitas Sebelas Maret (UNS), Surakarta, pada Jumat (10/4/2026). Langkah strategis ini diambil sebagai upaya menekan kesenjangan antara inklusi keuangan yang tinggi dengan literasi digital masyarakat yang masih tertinggal.
Data Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025 mencatat, inklusi keuangan di Indonesia telah mencapai 80,51 persen. Namun, tingkat literasi keuangan masyarakat masih berada di angka 66,46 persen. Kesenjangan ini menjadi perhatian serius, terutama karena besarnya populasi Generasi Z dan milenial dalam ekosistem ekonomi digital saat ini.
Gerai CERDAS PeKA—yang merupakan akronim dari Cakrawala Edukasi dan Ruang Diskusi Aman untuk Semua Konsumen Indonesia Peduli, Kenali, Adukan—hadir sebagai pusat literasi. Mahasiswa diharapkan dapat belajar mengenai perlindungan data pribadi hingga cara mengenali modus penipuan keuangan digital.
Kepala Departemen Surveilans Sistem Pembayaran dan Pelindungan Konsumen BI, Anton Daryono, menegaskan bahwa mahasiswa berperan strategis sebagai *digital native*. Mereka tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga agen edukasi bagi lingkungan sekitarnya.
Program ini merupakan bagian dari Gerakan Bersama Edukasi Pelindungan Konsumen (GEBER PK). BI menekankan pentingnya penguatan literasi sebagai fondasi agar pertumbuhan ekonomi digital tidak dibarengi dengan lonjakan kejahatan siber.
Rektor UNS, Hartono, menyoroti urgensi edukasi ini menyusul banyaknya kasus penipuan keuangan digital yang terjadi. Tercatat sejak akhir 2024 hingga 2025, terdapat lebih dari 225 ribu laporan penipuan dengan total kerugian mencapai Rp 4,6 triliun. Selain itu, jeratan pinjaman online ilegal masih menjadi ancaman nyata bagi masyarakat.
“Literasi keuangan digital wajib menjadi perhatian kita bersama. Kami berharap kehadiran Gerai Cerdas PK ini mampu membangun generasi muda yang cerdas, mampu mengenali risiko, dan bijak dalam memanfaatkan teknologi finansial,” ujar Hartono.
Kolaborasi ini juga didukung oleh sektor industri, termasuk DANA Indonesia dan Asosiasi Fintech Indonesia (AFTECH). Chief of Legal and Compliance DANA, Dina Artarini, mengingatkan bahwa pola konsumsi serba cepat di kalangan muda menuntut pemahaman keamanan yang lebih baik.
Sementara itu, Sekretaris Jenderal AFTECH, Firlie Ganinduto, menilai kampus adalah kanal paling efektif untuk memperluas literasi secara masif. Dengan melibatkan lebih dari 9,9 juta mahasiswa di Indonesia, edukasi diharapkan mampu menjaga kepercayaan terhadap ekosistem digital nasional menuju Indonesia Emas 2045.
Sebagai platform *hybrid*, Gerai CERDAS PeKA menyediakan berbagai akses materi pelindungan konsumen, seminar keamanan digital, hingga wadah kompetisi inovasi bagi mahasiswa. Saat ini, tantangan utama ekosistem digital nasional bukan lagi sekadar akses, melainkan memastikan setiap pengguna memiliki kecakapan untuk bertransaksi dengan aman.







