Tutup
News

Jafarudin Pimpin SMSI DIY, Bahas Tantangan Pers

150
×

Jafarudin Pimpin SMSI DIY, Bahas Tantangan Pers

Sebarkan artikel ini
jafarudin-resmi-pimpin-smsi-diy-masa-bakti-2026–2030,-buku-ambang-sandyakala-jurnalisme-dibedah
Jafarudin Resmi Pimpin SMSI DIY Masa Bakti 2026–2030, Buku Ambang Sandyakala Jurnalisme Dibedah

Sleman – Jafarudin, pendiri beritajogja.com, terpilih secara aklamasi sebagai Ketua Serikat media Siber Indonesia (SMSI) DIY periode 2026-2030.

Pemilihan berlangsung dalam Musyawarah provinsi (Musprov) SMSI DIY di Sleman, Sabtu (17/2).

Jafarudin menggantikan Sihono HT, yang kini menjabat sebagai Ketua Dewan pembina SMSI DIY.

Sihono secara simbolis menyerahkan Pataka SMSI DIY kepada Jafarudin sebagai tanda serah terima jabatan.

“Program prioritas saya adalah bagaimana menguatkan peran organisasi dan ekosistem media siber,” ujar Jafarudin usai terpilih.

Tujuannya,kata dia,mewujudkan industri media siber yang sehat,mandiri,dan bermartabat.

Penutupan Musprov SMSI DIY dirangkai dengan bedah buku karya Jafarudin berjudul “Ambang Sandyakala Jurnalisme, Salam Sayang untuk Dewan Pers”.

Dua wartawan senior, Sihono HT dan Hudono, menjadi pembedah buku tersebut.

Jafarudin menjelaskan, bukunya membahas problematika pers digital dan menawarkan solusi.

Menurutnya, tantangan pers di era digital semakin kompleks.

Algoritma platform global, dominasi influencer, disinformasi berbasis AI, hingga kebijakan Dewan Pers dinilai menyempitkan ruang gerak pers profesional.

Ia menyoroti kebijakan verifikasi Dewan Pers yang memberatkan media startup.

Padahal, banyak media startup didirikan oleh wartawan profesional yang menjadi korban PHK.

“Anggota SMSI DIY rata-rata adalah media startup, namun tetap setia dengan jurnalisme berkualitas, profesional dan menjaga etika,” ungkapnya.

Jafarudin meyakini pers profesional tetap menjadi satu-satunya institusi sosial yang memiliki mekanisme verifikasi dan akuntabilitas.

“Jika negara abai akan hal ini, maka sesungguhnya yang dipertaruhkan bukan masa depan Pers, melainkan demokrasi itu sendiri,” tegasnya.

Ia menegaskan tidak bermaksud melawan Dewan Pers, namun ingin mengembalikan marwah Dewan Pers sesuai UU Pers.

“Solusi yang saya tawarkan adalah agar dewan Pers memberikan mandat kepada organisasi perusahaan pers seperti SMSI untuk memverifikasi perusahaan pers, lalu Dewan Pers mendata,” jelasnya.

Sihono menilai buku ini lahir dari kegelisahan seorang praktisi media yang merasakan kebebasan pers perlahan bergeser.

“Buku ini menegaskan verifikasi idealnya memperkuat ekosistem,bukan menyisihkan,” tandas Sihono.

Hudono menambahkan, verifikasi yang terlalu menekankan struktur perusahaan pers dikhawatirkan mengabaikan inti jurnalisme.