Jakarta – Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Anindya Bakrie, mengingatkan dunia usaha untuk bersiap menghadapi dampak jangka panjang konflik di Timur Tengah.
Anindya memprediksi konflik tersebut berpotensi berlangsung lebih lama dari perkiraan semula.
“Kami mencatat bahwa perang di Timur Tengah ini bisa berlangsung mungkin lebih lama dari yang pertama kali kita prediksi. Jadi apakah itu 4-5 minggu mungkin suatu yang harus kita antisipasi,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Selasa (10/3).
Anindya, yang akrab disapa Anin, menekankan pentingnya memperkuat ketahanan ekonomi nasional dalam menghadapi situasi ini.
Menurutnya, ada tiga aspek utama yang perlu dijaga.Pertama,ketahanan energi. Anindya menyebut pemerintah sedang menganalisis dampak perang di Timur Tengah terhadap harga Bahan Bakar Minyak (BBM), LPG, dan LNG.
Kedua, ketahanan pangan. Ketiga, menjaga stabilitas nasional sebagai kunci sebelum ekonomi dapat kembali fokus pada pertumbuhan.
Anin juga menyoroti pentingnya memperkuat pasar domestik dan rantai pasok. Ia menilai program Makan Bergizi Gratis (MBG) dapat menciptakan pasar baru.
Selain itu, ia menekankan perlunya menjaga ekspor produk-produk unggulan seperti kelapa sawit.
Anindya juga menyinggung kebutuhan investasi di tengah konflik.Ia menegaskan koordinasi antara pemerintah dan dunia usaha menjadi kunci menghadapi ketidakpastian global.
Melalui Indonesia Incorporated, Anin mengajak dunia usaha dan pemerintah untuk kompak, bersatu, dan berkoordinasi.
“Pada intinya, mood-nya tetap hati-hati, tapi mood-nya tetap kita optimistis untuk bisa bertahan, menjaga kestabilan dan di ujungnya tentu untuk pertumbuhan,” pungkas Anin.







