JAKARTA – Kinerja reksadana campuran mengalami tekanan pada Maret 2026 setelah sempat mencatatkan pertumbuhan positif pada bulan sebelumnya. Data Infovesta menunjukkan imbal hasil reksadana campuran terkoreksi 5,62% secara bulanan, berbalik dari kenaikan 1,44% yang dicatatkan pada Februari 2026.
Meski demikian, pelaku industri menilai prospek instrumen ini pada kuartal II-2026 masih tetap menarik. Senior Vice President, Head of Retail, Product Research & Distribution Henan Putihrai Asset Management (HPAM), Reza Fahmi Riawan, menjelaskan bahwa pertumbuhan ke depan tidak lagi mengandalkan kenaikan pasar secara menyeluruh (*broad market rally*).
Menurutnya, pasar saat ini cenderung bergerak tidak seragam. Oleh karena itu, potensi imbal hasil akan lebih banyak bergantung pada strategi rotasi sektor, pengaturan durasi obligasi, serta ketepatan dalam perpindahan antaraset. Investor yang menginginkan pertumbuhan dengan volatilitas terukur tetap dapat memanfaatkan reksadana campuran untuk memperoleh imbal hasil yang kompetitif secara *risk-adjusted*.
Optimisme serupa juga disampaikan CEO Pinnacle Investment, Guntur Putra. Ia menargetkan kinerja Pinnacle Winner Balanced Fund mampu melampaui tolok ukur (*benchmark*) dalam jangka menengah. Strategi yang diterapkan berfokus pada kombinasi analisis makroekonomi, valuasi pasar, serta potensi pertumbuhan laba emiten dalam portofolio untuk menciptakan imbal hasil optimal yang konsisten.
Di sisi lain, Deputy Chief Investment Officer Sinarmas Asset Management, Triwira Tjandra, menyatakan bahwa produk Simas Syariah Berkembang membidik imbal hasil yang lebih kompetitif dibandingkan instrumen pasar uang syariah pada kuartal II-2026. Meski demikian, ia menegaskan bahwa target tersebut tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian.
Ia juga mengingatkan para investor bahwa besaran persentase imbal hasil tidak bersifat pasti karena sangat dipengaruhi oleh dinamika pasar serta kondisi ekonomi makro yang terus berubah.







