Tutup
Regulasi

Kinerja Reksadana Campuran Melemah, Simak Prospek dan Strategi Investasi Selektif

91
×

Kinerja Reksadana Campuran Melemah, Simak Prospek dan Strategi Investasi Selektif

Sebarkan artikel ini

JAKARTA – Kinerja reksadana campuran mengalami tekanan pada Maret 2026 setelah sempat mencatatkan pertumbuhan positif pada bulan sebelumnya. Data Infovesta menunjukkan imbal hasil reksadana campuran terkoreksi 5,62% secara bulanan, berbalik dari kenaikan 1,44% yang dicatatkan pada Februari 2026.

Meski demikian, pelaku industri menilai prospek instrumen ini pada kuartal II-2026 masih tetap menarik. Senior Vice President, Head of Retail, Product Research & Distribution Henan Putihrai Asset Management (HPAM), Reza Fahmi Riawan, menjelaskan bahwa pertumbuhan ke depan tidak lagi mengandalkan kenaikan pasar secara menyeluruh (*broad market rally*).

Menurutnya, pasar saat ini cenderung bergerak tidak seragam. Oleh karena itu, potensi imbal hasil akan lebih banyak bergantung pada strategi rotasi sektor, pengaturan durasi obligasi, serta ketepatan dalam perpindahan antaraset. Investor yang menginginkan pertumbuhan dengan volatilitas terukur tetap dapat memanfaatkan reksadana campuran untuk memperoleh imbal hasil yang kompetitif secara *risk-adjusted*.

Optimisme serupa juga disampaikan CEO Pinnacle Investment, Guntur Putra. Ia menargetkan kinerja Pinnacle Winner Balanced Fund mampu melampaui tolok ukur (*benchmark*) dalam jangka menengah. Strategi yang diterapkan berfokus pada kombinasi analisis makroekonomi, valuasi pasar, serta potensi pertumbuhan laba emiten dalam portofolio untuk menciptakan imbal hasil optimal yang konsisten.

Di sisi lain, Deputy Chief Investment Officer Sinarmas Asset Management, Triwira Tjandra, menyatakan bahwa produk Simas Syariah Berkembang membidik imbal hasil yang lebih kompetitif dibandingkan instrumen pasar uang syariah pada kuartal II-2026. Meski demikian, ia menegaskan bahwa target tersebut tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian.

Ia juga mengingatkan para investor bahwa besaran persentase imbal hasil tidak bersifat pasti karena sangat dipengaruhi oleh dinamika pasar serta kondisi ekonomi makro yang terus berubah.

Regulasi

SumbarSumbarbisnis.com JAKARTA. Harga emas dan perak melanjutkan penguatan pada pekan lalu, tetapi kenaikan ini dinilai belum mencerminkan perubahan tren di tengah ketidakpastian geopolitik global yang masih tinggi. Berdasarkan data Trading Economics, pada akhir perdagangan Jumat (17/4/2026), harga emas di pasar spot ditutup di level US$ 4.833 per ons troi, naik 1,72% dibandingkan pekan sebelumnya. Sementara itu, harga perak secara mingguan menguat…

Regulasi

SumbarSumbarbisnis.com – JAKARTA. PT Bank CIMB Niaga Tbk (BNGA) bakal membagikan dividen tunai tahun buku 2025 senilai total Rp 4,07 triliun kepada para pemegang saham. Keputusan tersebut merujuk hasil Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) Perseroan yang digelar pada Jumat (17/4/2026) lalu. Dalam keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia, dikutip Minggu (19/4/2026), manajemen CIMB Niaga menyebut nilai dividen yang dibagikan maksimal setara 60%…

Regulasi

SumbarSumbarbisnis.com JAKARTA. Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerikat Serikat (AS) melemah pada Jumat (17/4/2026). Mengutip Bloomberg, rupiah melemah 0,29% secara harian ke Rp 17.189 per dolar AS. Berdasarkan Jisdor Bank Indonesia (BI), rupiah melemah 0,27% secara harian ke Rp 17.189 per dolar AS. Chief Analyst Doo Financial Futures, Lukman Leong mengatakan, rupiah kembali melemah cukup besar dan mencatatkan rekor paling lemah sepanjang sejarah….

Regulasi

SumbarSumbarbisnis.com JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan berpeluang melanjutkan penguatan terbatas pada perdagangan Senin (20/4/2026), di tengah sentimen global yang masih dibayangi ketegangan geopolitik. Pada penutupan perdagangan Jumat (17/4/2026), IHSG ditutup menguat 0,17% ke level 7.634,00. Penguatan ini ditopang oleh antisipasi aksi korporasi emiten serta koreksi harga minyak mentah. Head of Retail Research MNC Sekuritas…

Regulasi

SumbarSumbarbisnis.com – JAKARTA. Kinerja emiten batubara tercatat menurun pada tahun 2025 yang salah satunya disebabkan oleh berkurangnya harga jual rata-rata atau average selling price (ASP). Sejumlah faktor seperti pemangkasan rencana kerja dan anggaran biaya (RKAB), harga batubara hingga sentimen geopolitik menjadi faktor penentu kinerja emiten batubara ke depan. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyampaikan bahwa volume produksi…

Regulasi

SumbarSumbarbisnis.com JAKARTA. Harga Bitcoin sempat menguat menembus level US$ 75.000 setelah adanya kabar kesepakatan gencatan senjata selama 10 hari antara Israel dan Lebanon pada Jumat (17/4/2026) dinihari. Sentimen positif dari meredanya tensi geopolitik ini mendorong minat investor terhadap aset berisiko, termasuk kripto. Berdasarkan data pasar, pada Minggu (19/4/2026) pukul 07.55 WIB, harga Bitcoin tercatat di level US$ 75.693 atau naik 3,62%…