JAKARTA – PT Rukun Raharja Tbk (RAJA) mencatatkan lonjakan laba bersih yang signifikan hingga 100,4 persen secara tahunan pada semester I 2026. Perusahaan membukukan laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar US$ 22,75 juta atau setara dengan Rp 410,69 miliar.
Capaian tersebut menunjukkan pertumbuhan drastis dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya yang tercatat sebesar US$ 11,35 juta atau sekitar Rp 204,91 miliar. Peningkatan kinerja keuangan ini didorong oleh optimalisasi portofolio investasi dan kontribusi dari sektor hulu migas.
Pendapatan perseroan turut mengalami pertumbuhan sebesar 3 persen menjadi US$ 131,2 juta atau sekitar Rp 2,37 triliun. Pada semester I 2025, perusahaan mencatatkan pendapatan sebesar US$ 127,6 juta atau Rp 2,30 triliun.
Manajemen menjelaskan bahwa pertumbuhan pendapatan ini ditopang oleh kontribusi penuh dari proyek Sengkang Gas Compressor yang telah beroperasi secara komersial. Proyek ini berhasil menutupi penurunan volume penjualan gas yang sempat terganggu akibat masalah operasional pada jaringan pipa di Sumatra.
Selain itu, laba berjalan perusahaan juga melonjak hingga 88 persen menjadi US$ 28,9 juta atau sekitar Rp 521,53 miliar. Angka ini meningkat signifikan dibandingkan realisasi pada semester I 2025 yang berada di level US$ 15,4 juta atau Rp 277,91 miliar.
Direktur Utama Rukun Raharja, Djauhar Maulidi, mengungkapkan bahwa kenaikan laba didorong oleh peningkatan pendapatan investasi dari PT Petrogas Jatim Utama Cendana (PJUC). Perusahaan tersebut diuntungkan oleh kenaikan rata-rata harga minyak yang mencapai US$ 117 per BOEPD dari sebelumnya US$ 74 per BOEPD.
Kontribusi pendapatan investasi dari Grup Hafar juga memberikan dampak positif bagi keuangan perusahaan. Selain itu, terdapat keuntungan dari pembelian murah atau gain on bargain purchase atas akuisisi participating interest di Blok Madura melalui PT Raharja Energi Cepu Tbk (RATU).
Djauhar menyebutkan bahwa perseroan tetap berkomitmen menjaga pertumbuhan kinerja melalui disiplin operasional yang ketat. Strategi ini diterapkan meski perusahaan sempat menghadapi tantangan pada sejumlah aktivitas operasional di lapangan.
Memasuki paruh kedua tahun 2026, Rukun Raharja menyiapkan sejumlah inisiatif strategis untuk mempertahankan momentum pertumbuhan. Fokus utama perusahaan meliputi percepatan pembangunan infrastruktur energi serta optimalisasi aset-aset yang sudah beroperasi.
Kinerja keuangan RAJA ini menambah daftar emiten yang mencatatkan pertumbuhan laba di tengah fluktuasi sektor energi nasional. Sebelumnya, industri keuangan juga mencatat persaingan ketat, di mana PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) mencetak laba hampir setara dengan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) pada semester I 2026, yakni di kisaran Rp 29-30 triliun.
Kondisi ekonomi makro, termasuk tren harga komoditas dan stabilitas infrastruktur, dinilai menjadi faktor penentu bagi keberlanjutan ekspansi bisnis perusahaan energi seperti RAJA. Manajemen optimistis bahwa langkah strategis yang diambil akan memberikan nilai tambah bagi para pemegang saham hingga akhir tahun.






