JAKARTA – PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) melaporkan perolehan laba bersih sebesar Rp 1,97 triliun sepanjang semester I-2026. Angka tersebut mencatatkan penurunan tipis jika dibandingkan dengan capaian laba bersih pada periode yang sama tahun lalu yang mencapai Rp 2,03 triliun.
Laporan keuangan perusahaan per Jumat (31/7/2026) menunjukkan bahwa penurunan laba dipicu oleh peningkatan beban operasional yang cukup signifikan. Meski demikian, emiten farmasi ini berhasil menjaga momentum pertumbuhan dari sisi penjualan neto.
Perseroan mencatatkan penjualan neto sebesar Rp 19,47 triliun pada semester I-2026. Angka ini naik dibandingkan realisasi penjualan neto pada semester I-2025 yang berada di level Rp 17,07 triliun.
Sejalan dengan pertumbuhan penjualan, laba bruto perusahaan juga ikut terkerek naik. Kalbe Farma mencatatkan laba bruto sebesar Rp 7,31 triliun, meningkat dari Rp 7,00 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Namun, tekanan pada profitabilitas muncul akibat lonjakan beban operasional yang harus ditanggung perusahaan. Beban penjualan tercatat membengkak menjadi Rp 3,85 triliun dari sebelumnya sebesar Rp 3,58 triliun.
Beban umum dan administrasi juga mengalami kenaikan menjadi Rp 748,08 miliar. Pada periode semester I-2025, beban tersebut tercatat sebesar Rp 723,88 miliar.
Di sisi lain, perusahaan melakukan efisiensi pada alokasi dana untuk penelitian dan pengembangan. Beban riset turun menjadi Rp 235,74 miliar dari sebelumnya Rp 248,46 miliar.
Kinerja operasional turut dipengaruhi oleh penurunan pendapatan operasi lainnya. Pendapatan dari pos ini menyusut menjadi Rp 44,18 miliar dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 99,40 miliar.
Terlepas dari kenaikan beban tersebut, Kalbe Farma masih mampu mencatatkan laba sebelum pajak yang cukup stabil. Angka laba sebelum pajak perseroan tercatat mencapai Rp 2,53 triliun.
Dari sisi posisi neraca, total aset Kalbe Farma mengalami pertumbuhan hingga akhir Juni 2026. Total aset perusahaan mencapai Rp 33,07 triliun, naik dari Rp 30,69 triliun pada akhir tahun 2025.
Peningkatan aset tersebut diikuti dengan kenaikan pada sisi liabilitas perusahaan. Total kewajiban atau liabilitas tercatat sebesar Rp 7,31 triliun, naik dari posisi akhir tahun 2025 yang sebesar Rp 5,97 triliun.
Sementara itu, ekuitas perusahaan juga menunjukkan penguatan. Ekuitas meningkat menjadi Rp 25,76 triliun dibandingkan posisi akhir tahun 2025 yang tercatat sebesar Rp 24,72 triliun.
Kondisi kas dan setara kas perseroan pun terpantau dalam posisi yang kuat. Per akhir Juni 2026, kas dan setara kas tercatat sebesar Rp 4,83 triliun, naik dari Rp 4,33 triliun pada akhir tahun 2025.






