Tutup
InvestasiPerbankan

MSCI Merombak Indeks, Saham Indonesia Bereaksi Dinamis

279
×

MSCI Merombak Indeks, Saham Indonesia Bereaksi Dinamis

Sebarkan artikel ini
daftar-saham-kena-depak-msci,-apa-saja?
Daftar Saham Kena Depak MSCI, Apa Saja?

Jakarta – Kabar terbaru dari pasar modal Indonesia, Morgan Stanley Capital International (MSCI) akan mengeluarkan sejumlah saham emiten dari daftar indeksnya. keputusan ini efektif berlaku mulai 30 Januari 2026.

Dua saham yang terkena dampak adalah PT Sariguna Primatirta Tbk (CLEO) dan PT Aspirasi Hidup Indonesia Tbk (ACES). Keduanya sebelumnya masuk dalam daftar Small Cap indexes (SMID).

MSCI menetapkan kapitalisasi pasar minimal US$141,5 juta untuk kategori SMID.

“Indeks MSCI Indonesia SMID Cap mencakup representasi perusahaan berkapitalisasi menengah dan kecil di pasar ekuitas Indonesia.dengan 63 konstituen, indeks ini mencakup sekitar 28 persen dari kapitalisasi pasar yang disesuaikan dengan free float di Indonesia,” demikian keterangan resmi MSCI.

Selain itu, status saham PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) juga diturunkan dari Global Standard Indexes menjadi SMID.

Nilai pasar INDF tercatat US$1,78 miliar per 30 Januari 2026, di bawah ambang batas kapitalisasi besar US$3,9 miliar.

Namun, ada kabar baik bagi PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS). Saham BRMS masuk dalam daftar 10 saham unggulan Indonesia per 30 Januari 2026.

BRMS memiliki kapitalisasi pasar US$3,65 miliar. Saham BUMI menggantikan posisi PT Barito Pacific Tbk (BRPT).

Sebelumnya, MSCI telah menetapkan perubahan indeks review untuk saham Indonesia pada Februari. ini termasuk pembekuan kenaikan Foreign Inclusion Factor (FIF) dan Number of Shares (NOS),serta penambahan konstituen ke dalam MSCI Investable Market Indexes (IMI).

MSCI juga membekukan perpindahan naik antar-indeks segmen ukuran, termasuk dari Small Cap ke Standard.

MSCI menyatakan langkah ini bertujuan mengurangi index turnover dan risiko investasi, serta memberi waktu bagi otoritas pasar untuk meningkatkan transparansi.

Jika tidak ada perbaikan hingga Mei 2026, MSCI akan mengevaluasi kembali status akses pasar Indonesia.

Evaluasi ini mempertimbangkan penurunan bobot dalam Indeks Pasar Emerging MSCI dan potensi reklasifikasi Indonesia dari emerging market ke frontier market.

Bursa Efek Indonesia (BEI) dan Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) telah melakukan pertemuan daring dengan MSCI, terakhir pada 11 Februari.

Pjs Direktur Utama BEI jeffrey Hendrik menyebut pembahasan berlangsung konstruktif, namun detailnya bersifat rahasia.

“Pertemuan berlangsung secara konstruktif, seperti juga pertemuan-pertemuan sebelumnya.Kita membahas detail dari tiga rencana aksi yang sudah kita sampaikan sebelumnya,” kata Jeffrey.

Tiga rencana aksi SRO meliputi peningkatan transparansi melalui pengungkapan pemegang saham di atas 1 persen, penyajian data investor yang lebih granular, dan progres kenaikan batas minimal saham beredar di publik (free float) dari 7,5 persen menjadi 15 persen.

BEI juga berencana menerbitkan daftar saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi, mengacu pada praktik di Hong Kong Exchanges and Clearing (HKEX).

Berikut daftar 10 Saham Indonesia Teratas dalam Indeks MSCI per Januari 2026:

  1. PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) – US$24,46 miliar
  2. PT Bank Rakyat Indonesia tbk (BBRI) – US$15,48 miliar
  3. PT Bank Mandiri tbk (BMRI) – US$10,72 miliar
  4. PT Telekom Indonesia Tbk (TLKM) – US$10,62 miliar
  5. PT Astra International Tbk (ASII) – US$7,66 miliar
  6. PT Amman Mineral INTL Tbk (AMMN) – US$6,57 miliar
  7. PT Dian swastatika Sentosa tbk (DSSA) – US$5,91 miliar
  8. PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) – US$4,08 miliar
  9. PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) – US$3,99 miliar
  10. PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) – US$3,65 miliar