Regulasi

Penerbitan Obligasi Tetap Prospektif Meski Suku Bunga Tinggi dan Selektif

147
×

Penerbitan Obligasi Tetap Prospektif Meski Suku Bunga Tinggi dan Selektif

Sebarkan artikel ini

JAKARTA – Kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) ke level 5,25% memicu respons selektif di pasar obligasi korporasi nasional. PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) memprediksi emiten akan lebih berhati-hati dalam menerbitkan surat utang baru akibat meningkatnya biaya dana atau *cost of fund*.

Fixed Income Analyst Pefindo, Ahmad Nasrudin, menjelaskan bahwa kenaikan suku bunga biasanya menekan harga obligasi lama dan mendorong *yield* ke level yang lebih tinggi. Kondisi ini membuat beban emiten bertambah saat mencari pendanaan baru di pasar.

“Prospek penerbitan obligasi korporasi tetap terbuka, namun akan lebih selektif. Emiten yang tidak memiliki kebutuhan mendesak mungkin akan menunda penerbitan, mempersingkat tenor, atau mencari sumber pendanaan alternatif,” ujar Ahmad.

Kendati demikian, aktivitas penerbitan obligasi diperkirakan tetap terjaga karena adanya kebutuhan *refinancing* yang besar pada semester II-2026. Tercatat, total jatuh tempo surat utang korporasi mencapai Rp107,51 triliun, dengan rincian Rp63,95 triliun pada kuartal III dan Rp43,56 triliun pada kuartal IV.

Sektor multifinance memimpin kebutuhan pendanaan dengan nilai jatuh tempo mencapai Rp33,93 triliun, diikuti sektor pulp dan kertas sebesar Rp23,18 triliun, serta perbankan sebesar Rp19,08 triliun. Sektor-sektor ini diprediksi menjadi penggerak utama pasokan obligasi tahun ini.

Terdapat empat sentimen utama yang bakal memengaruhi pasar obligasi ke depan. Pertama, penyesuaian *yield* akibat kenaikan suku bunga acuan. Kedua, besarnya kebutuhan *refinancing* yang menuntut emiten mencermati momentum penerbitan agar tidak terbebani kupon yang tinggi.

Ketiga, preferensi investor terhadap kualitas kredit. Di tengah volatilitas, investor cenderung melirik emiten berperingkat tinggi yang memiliki risiko lebih rendah. Keempat, tekanan eksternal berupa fluktuasi nilai tukar rupiah dan ekspektasi inflasi yang memengaruhi persepsi risiko makro.

Sementara itu, Senior Economist KB Valbury Sekuritas, Fikri C Permana, menyarankan investor untuk lebih cermat dalam menyusun portofolio. Menurutnya, instrumen pasar uang atau obligasi pemerintah saat ini lebih menarik untuk menjaga likuiditas dan imbal hasil.

“Jika ingin masuk ke obligasi korporasi, sebaiknya pilih tenor pendek antara satu hingga tiga tahun dengan mempertimbangkan fundamental emiten yang kuat,” jelas Fikri.

Fikri juga memproyeksikan adanya pelebaran *spread* antara Surat Berharga Negara (SBN) dengan obligasi korporasi peringkat AAA di kisaran 40 hingga 80 basis poin. Hal ini dipicu oleh risiko defisit fiskal dan kondisi global yang masih tidak menentu.

Regulasi

SumbarSumbarbisnis.com JAKARTA. Tekanan di pasar keuangan domestik masih membayangi kinerja industri reksadana. Di tengah pelemahan pasar saham dan meningkatnya volatilitas nilai tukar rupiah, manajer investasi memilih memperkuat kualitas portofolio melalui seleksi emiten berbasis fundamental guna menjaga kinerja reksadana saham hingga kuartal III 2026. Baca Juga: Rupiah Masih Rentan, Berisiko Tembus Rp 19.000 per Dolar AS di Akhir Juni 2026 Berdasarkan…

Regulasi

SumbarSumbarbisnis.com JAKARTA. Pasar keuangan domestik saat ini masih menghadapi tekanan yang cukup besar. Di pasar saham, misalnya, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) telah merosot sekitar 35,3% sejak awal tahun 2026 ke level 5.594,76. Tekanan juga terjadi di pasar keuangan secara lebih luas seiring pelemahan nilai tukar rupiah yang kini berada di kisaran Rp 18.000 per dolar AS. Dalam situasi yang penuh tantangan seperti saat ini, investor tampaknya…