Bursa Saham

Penindakan Rokok Ilegal Dorong Proyeksi Laba Sampoerna (HMSP) Naik di Q2-2026

1
×

Penindakan Rokok Ilegal Dorong Proyeksi Laba Sampoerna (HMSP) Naik di Q2-2026

Sebarkan artikel ini
Gedung kantor PT HM Sampoerna Tbk dengan latar belakang perkotaan Jakarta
PT HM Sampoerna Tbk diproyeksikan mencatatkan kenaikan laba bersih pada kuartal II 2026 berkat penindakan rokok ilegal.

JAKARTA – Industri rokok nasional menunjukkan sinyal pemulihan yang signifikan pada kuartal II 2026. Tren positif ini didorong oleh kebijakan pemerintah yang semakin memperketat penindakan terhadap peredaran rokok ilegal di pasar domestik.

PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) diproyeksikan menjadi salah satu perusahaan yang diuntungkan dari kondisi tersebut. Emiten ini diperkirakan mampu mencatatkan laba bersih sebesar Rp 2,3 triliun pada kuartal II 2026.

Proyeksi ini didukung oleh peningkatan volume penjualan serta strategi penyesuaian harga jual rata-rata (ASP) yang konsisten dilakukan perusahaan. Jika terealisasi, angka laba tersebut mencerminkan kenaikan 14% secara kuartalan dan lonjakan signifikan dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Riset CGS International Sekuritas Indonesia yang diterbitkan pada 23 Juli 2026 mengungkapkan data dari Philip Morris International (PMI). Volume penjualan industri rokok nasional pada kuartal II 2026 mencapai 67 miliar batang.

Realisasi tersebut tumbuh 6% dibandingkan kuartal sebelumnya dan naik 3% secara tahunan. Secara kumulatif, total volume penjualan industri selama semester I 2026 menyentuh 131 miliar batang atau meningkat 4% secara tahunan.

Pemulihan volume penjualan secara kuartalan ini diyakini sebagai dampak langsung dari kebijakan pemerintah. Penindakan yang lebih masif atas rokok ilegal terbukti mampu memulihkan pangsa pasar bagi pemain resmi di industri ini.

Kinerja HMSP sendiri mencatatkan volume pengiriman sebesar 20 miliar batang pada kuartal II 2026. Angka ini naik 9% secara kuartalan dan tercatat stabil dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Sepanjang enam bulan pertama tahun 2026, volume pengiriman HMSP mencapai 39 miliar batang. Capaian ini telah memenuhi sekitar 53% dari total proyeksi volume penjualan tahunan perusahaan.

Dari sisi strategi harga, HMSP terus menunjukkan konsistensi dalam penyesuaian harga jual. Produk unggulan seperti A Mild mengalami kenaikan harga sekitar 1% pada Juli 2026, dengan total akumulasi kenaikan 2% sepanjang tahun berjalan.

Produk unggulan lainnya telah mengalami kenaikan harga antara 2% hingga 4% sejak awal 2026. Langkah ini tercatat sebagai penyesuaian harga kelima yang dilakukan HMSP sepanjang tahun ini.

Strategi tersebut kini mulai diikuti oleh kompetitor di pasar. Pemain tier-2 seperti WIIM dan Nojorono dilaporkan telah menaikkan harga produk unggulan mereka masing-masing sebesar 3-4% dan 3%.

CGS International mempertahankan rekomendasi “Add” untuk saham HMSP dengan target harga Rp 1.060 per saham. Prospek pertumbuhan laba per saham (EPS) dinilai terbuka hingga periode setelah 2026.

Ketiadaan rencana kenaikan tarif cukai rokok hingga setidaknya 2027 menjadi katalis pendukung bagi kinerja keuangan perusahaan. EPS HMSP diperkirakan akan mencatat pertumbuhan tahunan majemuk (CAGR) sekitar 10% pada periode 2026-2028.

Perusahaan diproyeksikan mampu mencapai laba bersih Rp 9,21 triliun pada akhir 2026. Angka tersebut diprediksi berlanjut naik hingga Rp 10,68 triliun pada 2027.

Valuasi saham HMSP saat ini dinilai masih menarik bagi investor. Saham tersebut kini diperdagangkan pada kisaran 8 kali proyeksi price to earnings (P/E) 2027.

Potensi kenaikan valuasi tetap bergantung pada efektivitas penindakan rokok ilegal ke depan. Selain itu, realisasi volume penjualan yang melampaui target menjadi faktor penentu utama bagi pertumbuhan kinerja emiten di masa mendatang.