Tutup
Perbankan

Peritel Ungkap Biang Kerok Fenomena Rojali: Mal Jadi Showroom Online

264
×

Peritel Ungkap Biang Kerok Fenomena Rojali: Mal Jadi Showroom Online

Sebarkan artikel ini
peritel-ungkap-biang-kerok-fenomena-rojali
Peritel Ungkap Biang Kerok Fenomena Rojali

Jakarta – Pergeseran perilaku konsumen ke platform daring memicu fenomena ‘rojali’ atau ‘rombongan jarang beli’ di pusat perbelanjaan. Himpunan Peritel & Penyewa pusat Perbelanjaan Indonesia (Hippindo) menyoroti perubahan ini sebagai tantangan bagi industri ritel modern.

Ketua Hippindo, Budihardjo Iduansjah, mengungkapkan bahwa toko fisik kini lebih berfungsi sebagai etalase produk.”Mal itu untuk showroom, lihat-lihat barang, megang, tapi dia pencet online,” ujarnya saat konferensi pers Hari Retail Modern Indonesia (HARMONI) di Gedung Smesco, Jakarta, Rabu (23/7).budihardjo menambahkan, pengusaha ritel telah beradaptasi dengan mengecilkan ukuran toko fisik sambil mempertahankan ketersediaan produk secara daring. “Toko yang tadinya gede jadi kecil, tapi barangnya kami siap di gedung-gedung online,” imbuhnya.

Menurut Budihardjo, fenomena rojali semakin menguat sejak pandemi Covid-19, seiring dengan meningkatnya kemudahan belanja daring. Akibatnya, kunjungan ke pusat perbelanjaan lebih banyak didorong oleh aktivitas sosial dan kuliner.

bisnis makanan dan minuman (F&B) menjadi sektor yang paling diuntungkan dari tren ini. “Karena kalau muter-muter pasti haus terus minum. Ada kenaikan omset F&B sebesar 5 sampai 10 persen,” jelas Budihardjo.Direktur Bina Usaha Perdagangan Kementerian Perdagangan, Septo Soepriyatno, sependapat dengan Budihardjo. Ia membenarkan bahwa peralihan ke belanja daring menjadi penyebab utama fenomena rojali. Selain itu, Septo menambahkan bahwa masyarakat kini lebih mencari interaksi sosial setelah lama berdiam di rumah selama pandemi.

Septo menjelaskan bahwa pusat perbelanjaan mulai beradaptasi dengan menyediakan fasilitas rekreasi, hiburan, dan interaksi sosial. “Yang tadinya tempat belanja, sekarang udah mulai menyiapkan spot terkait rekreasi, hiburan, sampai interaksi sosial. Makanya kita lihat di ITC Mangga Dua, sudah mulai berubah, di lantai dasarnya sudah mulai banyak F&B,” kata Septo pada Rabu (23/7). Ia menambahkan, “Memang yang diuntungkan sekarang F&B karena masyarakat rindu berinteraksi sosial.”

Septo juga menepis anggapan bahwa fenomena rojali mencerminkan penurunan minat belanja masyarakat. “Bukan berarti rojali tidak belanja. Yang terjadi di mal,masyarakat datang ingin berinteraksi sosial,kumpul keluarga,jalan-jalan,(lihat) barang bagus,checkout online,” pungkasnya.