BENGKULU – Pertumbuhan kredit perbankan nasional mengalami perlambatan pada Februari 2026. Data Bank Indonesia yang dihimpun Danantara Indonesia dan Bank Mandiri menunjukkan, penyaluran kredit perbankan tumbuh 9,37 persen secara tahunan (*year on year*/yoy), turun dari posisi Januari 2026 yang sebesar 9,96 persen.
Dendi Ramdani dari Office of Chief Economist Group PT Bank Mandiri Tbk. mengungkapkan, perlambatan kredit ini sejalan dengan moderasi penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK). Pertumbuhan DPK tercatat sebesar 13,18 persen (yoy), sedikit menurun dibandingkan bulan sebelumnya yang mencapai 13,48 persen.
Dalam acara Sarasehan Perekonomian Bengkulu, Kamis (9/4/2026), Dendi menjelaskan bahwa kredit korporasi menjadi motor penggerak utama dengan pertumbuhan signifikan sebesar 14,77 persen (yoy). Sementara itu, kredit konsumer masih mencatatkan pertumbuhan positif meski melambat di angka 6,58 persen (yoy).
Kondisi berbeda terjadi pada sektor UMKM. Kredit segmen UMKM justru berada di zona merah dengan kontraksi sebesar -0,30 persen (yoy). Tren penurunan ini diketahui telah berlangsung sejak pertengahan tahun 2023.
Meskipun pertumbuhan kredit melambat, Dendi menegaskan bahwa sektor perbankan tetap memiliki ketahanan yang kuat. Namun, ia mengingatkan perbankan untuk tetap waspada terhadap rasio kredit bermasalah atau *Non-Performing Loan* (NPL), terutama pada segmen UMKM.
Saat ini, NPL pada segmen UMKM tercatat paling tinggi, yakni 4,33 persen, meskipun angka tersebut telah melandai dari puncaknya sebesar 4,49 persen pada akhir 2025. Sebagai perbandingan, NPL segmen korporasi berada di posisi paling sehat yakni 1,24 persen, sementara segmen konsumer mencapai 2,25 persen.
Dari sisi likuiditas, rasio *Loan to Deposit Ratio* (LDR) perbankan nasional berada di level 84,72 persen per Februari 2026. Angka tersebut menurun dibandingkan akhir tahun 2024 yang sempat mencapai 88,62 persen, mengindikasikan ruang likuiditas perbankan yang cenderung longgar.
Dendi juga menyoroti dinamika simpanan masyarakat berdasarkan nominal saldo. Nasabah dengan saldo di atas Rp5 miliar mencatatkan pertumbuhan simpanan paling agresif dibandingkan kelompok saldo lainnya, yang mencerminkan adanya konsentrasi likuiditas pada pemilik modal besar.







