JAKARTA – Harga emas dunia yang sedang terkoreksi memicu perhatian investor terhadap pemilihan instrumen investasi. Meski pasar emas tengah mengalami tekanan, emas batangan dan emas digital tetap menjadi pilihan menarik dengan karakteristik yang berbeda sesuai kebutuhan jangka waktu investasi.
Berdasarkan data Trading Economics pada Senin (1/6) pukul 11.50 WIB, harga emas spot berada di level US$ 4.511 per ons troi. Angka ini mencerminkan pelemahan sebesar 1,15% dalam sepekan terakhir dan terkoreksi 0,15% dibandingkan posisi bulan sebelumnya.
Di pasar domestik, harga emas bersertifikat Antam saat ini dipatok di angka Rp 2.799.000 per gram, dengan harga *buyback* sebesar Rp 2.609.000 per gram. Selisih harga beli dan jual kembali atau *spread* tercatat sebesar Rp 190.000 per gram atau setara 6,79%.
Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, menilai emas batangan tetap menjadi instrumen yang solid untuk investasi jangka menengah hingga panjang. Emas fisik dianggap efektif sebagai alat lindung nilai (*hedging*) guna menjaga kekayaan dari ketidakpastian ekonomi serta kondisi geopolitik global.
Namun, Josua mengingatkan bahwa emas batangan kurang ideal bagi investor jangka pendek. Lebarnya selisih harga jual dan beli menuntut kenaikan harga yang cukup tinggi agar investor mencapai titik impas (*break even point*).
“Emas batangan cocok untuk menjaga kekayaan, dana darurat jangka panjang, warisan, atau diversifikasi portofolio dengan periode investasi minimal tiga hingga lima tahun,” ujarnya.
Ia menambahkan, investor yang aktif bertransaksi perlu mempertimbangkan faktor biaya penyimpanan, risiko kehilangan fisik, serta beban pajak yang dapat menekan imbal hasil investasi.
Di sisi lain, emas digital hadir sebagai alternatif yang menawarkan fleksibilitas lebih tinggi bagi investor ritel. Produk ini memungkinkan pembelian dalam nominal kecil dengan proses transaksi yang lebih cepat dan likuiditas yang lebih baik dibandingkan emas fisik.
Selain itu, emas digital menghilangkan risiko penyimpanan fisik bagi pemiliknya, sehingga sangat cocok untuk strategi akumulasi aset secara rutin dan bertahap.
“Emas digital lebih menarik bagi mereka yang mengutamakan kemudahan transaksi dan memiliki modal awal terbatas,” ungkapnya.
Kendati demikian, investor diminta tetap waspada terhadap aspek keamanan dalam berinvestasi emas digital. Sangat penting untuk memastikan penyedia layanan memiliki izin resmi, didukung oleh cadangan emas fisik yang jelas, serta transparan dalam mekanisme penyimpanan maupun cetak fisik.
Pada akhirnya, pemilihan instrumen harus disesuaikan dengan tujuan keuangan masing-masing investor. Emas batangan dinilai lebih unggul untuk kepemilikan aset jangka panjang, sementara emas digital memberikan keunggulan dalam hal fleksibilitas dan aksesibilitas.







