Jakarta – PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) terus berupaya memacu kinerja pada tahun 2026, salah satunya dengan meningkatkan penjualan gas ke sektor industri dan ekspansi infrastruktur gas bumi.
Sebagai langkah awal, PGAS telah menyalurkan gas ke PT Bumi Menara Internusa (BMI) di Lamongan, Jawa Timur, sejak 1 Januari 2026.
Pada tahap awal, BMI memanfaatkan gas bumi sebanyak 15.000 meter kubik (m3) per bulan, dan secara bertahap meningkat hingga 80.000 m3 per bulan seiring peningkatan produksi.
CEO Edvisor Provina Visindo, Praska Putrantyo, meyakini bahwa penyaluran gas ini akan mendorong peningkatan volume penjualan gas PGAS ke pelanggan industri dan komersial, yang merupakan kontributor utama pendapatan perusahaan.
“Kebutuhan energi bersih seperti gas yang meningkat dapat membuka peluang jangka panjang untuk pendapatan PGAS,” ujar Praska, Rabu (7/1/2026).
Selain fokus pada pelanggan industri, PGAS juga tengah menggarap sejumlah proyek strategis.
Salah satunya adalah proyek pembangunan pipa transmisi gas Cirebon-Semarang (Cisem) Tahap II yang ditargetkan selesai pada Februari 2026.
Proyek lainnya meliputi konversi Bahan Bakar Minyak (BBM) ke gas bumi di Kilang Cilacap, perluasan akses gas bumi di Pulau Jawa sisi selatan melalui proyek pipa gas Tegal-Cilacap, pengembangan pipa gas Bintuni-Fakfak di Papua, serta proyek jaringan gas (jargas) dengan target penambahan 200.000 sambungan rumah (SR).
Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI), Muhammad Wafi, menilai ekspansi ini sebagai investasi penting dalam pengembangan infrastruktur jangka panjang untuk menjamin pasokan gas, terutama di Jawa.
Wafi menambahkan, PGAS memiliki kemampuan finansial yang cukup untuk mendanai proyek-proyek tersebut berkat arus kas yang kuat. Namun, pendanaan eksternal tetap diperlukan untuk menjaga rasio utang agar tidak membebani laba.
Tantangan utama PGAS saat ini adalah risiko gangguan pasokan gas dari sektor hulu, terutama dari sumur-sumur tua.
Jika terjadi gangguan, PGAS harus mengandalkan pasokan Liquefied Natural Gas (LNG) yang harganya lebih mahal, yang berpotensi menggerus margin laba.
Pada Agustus 2025, PGAS sempat mengalami penurunan penyaluran dari pemasok gas (KKKS) hulu migas, yang menyebabkan pengalihan gas sementara ke pelanggan di Jawa Barat dan sebagian Sumatra.
Kebijakan Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT) juga masih menjadi potensi penghambat pertumbuhan margin bagi PGAS jika kuotanya diperluas.
Wafi merekomendasikan beli saham PGAS dengan target harga Rp 2.200 per saham, sementara Praska menyarankan *buy on weakness* dengan target harga Rp 2.140 per saham.







