Tutup
BisnisEkonomiNewsTeknologi

PHK Mengintai! AI dan Ekonomi Global Jadi Pemicu

328
×

PHK Mengintai! AI dan Ekonomi Global Jadi Pemicu

Sebarkan artikel ini
6-dari-10-perusahaan-bakal-lakukan-phk-pada-2026,-ketidakpastian-ekonomi-dan-ai-jadi-biang-kerok
6 dari 10 Perusahaan Bakal Lakukan PHK pada 2026, Ketidakpastian Ekonomi dan AI Jadi Biang Kerok

Jakarta – Kabar buruk bagi pekerja di Amerika Serikat. Gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) diperkirakan menerjang Negeri Paman Sam pada 2026.

Sebanyak 58% perusahaan di AS berencana melakukan efisiensi tenaga kerja, demikian hasil survei terbaru.

Ketidakpastian ekonomi global menjadi alasan utama perusahaan melakukan PHK.

Selain itu,kebijakan tarif dan perdagangan serta adopsi kecerdasan buatan (AI) turut memicu pengurangan karyawan.

Survei Resume.org terhadap 1.000 pemimpin bisnis AS mengungkap,55% perusahaan khawatir dengan ketidakpastian ekonomi.

Sementara 39% lainnya menyoroti kebijakan tarif dan perdagangan.

adopsi AI juga menjadi faktor signifikan.Sebanyak 35% perusahaan menyebut AI mengurangi kebutuhan tenaga kerja manusia.

Potensi PHK diperkirakan meningkat pada 2026. sebanyak 26% perusahaan menilai PHK sangat mungkin terjadi, dan 32% menyebut kemungkinan tersebut cukup besar.

Selain PHK, survei juga mencatat perlambatan laju perekrutan.sembilan persen perusahaan telah membekukan perekrutan, dan 41% mengurangi jumlah perekrutan baru.

Pekerja dengan gaji tinggi, mereka yang tidak memiliki keterampilan AI, pekerja baru, dan karyawan level pemula paling berisiko terkena PHK.

“Peran dengan gaji tinggi sering kali menjadi target pertama karena perusahaan melihat penghematan langsung dalam biaya gaji,” kata Kepala Divisi Career Advising di Resume.org, Kara Dennison.

Dennison menambahkan, pekerja baru dan level pemula berisiko karena belum memiliki pengetahuan mendalam.

Faktor demografis juga berpengaruh,di mana pekerja muda dianggap mudah digantikan,pekerja senior kurang adaptif,dan pemegang visa membawa biaya tambahan.

Adopsi AI semakin mengubah struktur tenaga kerja.Hingga saat ini, 28% perusahaan mengaku sudah menggantikan pekerjaan dengan AI, dan angkanya diprediksi naik menjadi 37% pada akhir 2026.

“Adopsi AI akan mengubah pasar tenaga kerja lebih dramatis dalam 18 hingga 24 bulan ke depan,” ujar Dennison.

Ia menekankan pentingnya adaptabilitas, berpikir kritis, dan kecerdasan emosional. Para profesional perlu membangun keterampilan digital dan keterampilan manusia yang tidak bisa digantikan AI.