Tutup
Regulasi

Merdeka Copper MDKA Gelar RUPSLB Bahas Private Placement dan Dividen

108
×

Merdeka Copper MDKA Gelar RUPSLB Bahas Private Placement dan Dividen

Sebarkan artikel ini

JAKARTA – PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) resmi menggeser jadwal Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) menjadi Selasa, 23 Juni 2026, pukul 14.00 WIB. Sebelumnya, agenda tersebut direncanakan berlangsung pada 11 Juni 2026.

Agenda utama RUPSLB ini adalah meminta persetujuan pemegang saham terkait rencana aksi korporasi berupa Penambahan Modal Tanpa Memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMTHMETD) atau *private placement*. MDKA berencana menerbitkan 2.447.298.377 saham baru, yang mewakili 10% dari total modal ditempatkan dan disetor penuh.

Saham baru ini memiliki nilai nominal sebesar Rp20 per lembar. Merujuk pada aturan Bursa Efek Indonesia (BEI), harga pelaksanaan *private placement* ditetapkan minimal 90% dari rata-rata harga penutupan saham MDKA selama 25 hari berturut-turut sebelum pencatatan saham baru.

Berdasarkan perhitungan hingga Jumat (29/5/2026), rata-rata harga saham MDKA selama 25 hari berada di level Rp3.037 per lembar. Dengan demikian, harga pelaksanaan minimal yang ditetapkan adalah Rp2.733 per saham.

Selain membahas penambahan modal, manajemen MDKA juga akan mengusulkan penggunaan sebagian saldo laba per 31 Desember 2025 untuk dibagikan sebagai dividen tunai kepada para pemegang saham. Langkah ini diambil sebagai bagian dari strategi pendanaan perusahaan sekaligus upaya memberikan nilai tambah kepada investor.

Hingga akhir tahun 2025, MDKA tercatat memiliki saldo laba yang belum dicadangkan sebesar US$142,7 juta, angka ini mengalami penurunan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar US$204,86 juta. Sementara itu, perusahaan membukukan rugi bersih sebesar US$62,06 juta, membengkak dari rugi bersih tahun 2024 yang mencapai US$55,76 juta.

Performa saham MDKA sendiri sempat mengalami tekanan, dengan koreksi sebesar 4,78% ke level Rp2.590 per saham pada penutupan perdagangan Jumat (29/5/2026). Dalam kurun waktu satu bulan, saham perusahaan telah melemah 19,81%.

Kendati demikian, konsensus analis Bloomberg masih memberikan sentimen positif terhadap saham MDKA. Sebanyak 21 dari 22 analis yang mengulas saham ini memberikan rekomendasi beli, sementara satu lainnya menyarankan untuk *hold*. Para analis mematok target harga rata-rata di angka Rp3.912,86 per saham.

Dukungan analis juga datang dari Ciptadana Sekuritas dan Bahana Sekuritas. Analis Ciptadana Sekuritas, Thomas Radityo, merekomendasikan beli dengan target harga Rp3.850 per saham. Senada, analis Bahana Sekuritas, Jeremy Mikael, juga menyarankan beli dengan target harga di level Rp3.000 per saham.

Regulasi

SumbarSumbarbisnis.com – JAKARTA. Nilai tukar rupiah masih berada dalam tekanan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menjelang paruh kedua tahun 2026. Meski berbagai langkah stabilisasi telah ditempuh oleh Bank Indonesia (BI), sejumlah ekonom menilai penguatan rupiah secara berkelanjutan masih menghadapi tantangan besar dari faktor eksternal maupun domestik. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah di pasar spot ditutup melemah 0,20% secara harian ke level Rp…

Regulasi

SumbarSumbarbisnis.com JAKARTA. PT Vale Indonesia Tbk (INCO) memberikan tanggpan atas dampak rencana penerbitan Peraturan Pemerintah (PP) Tata Kelola Ekspor Sumber Daya Alam (SDA). Melalui beleid tersebut, aktivitas ekspor sejumlah komoditas SDA bakal melalui satu pintu. Sekretaris Perusahaan Vale Indonesia, Ranty Astari Rachman mengatakan, pihaknya memahami bahwa pemerintah berencana menerbitkan PP Tata Kelola Ekspor SDA untuk memperkuat tata kelola…

Regulasi

SumbarSumbarbisnis.com JAKARTA. Saham bank berkapitalisasi besar alias big banks selama sepekan lalu masih menjadi saham yang paling banyak dijual asing. Aksi jual asing tersebut membuat pergerakan saham emiten big banks kompak ikut menurun. Diantara saham big banks yakni PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) dan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), saham yang turun paling tajam adalah saham…

Regulasi

SumbarSumbarbisnis.com JAKARTA. PT Megalestari Epack Sentosaraya Tbk (EPAC) akan berganti kepemilikan. Perusahaan yang bergerak di bidang industries barang dari plastik untuk pengemasan ini menjelaskan, rencana tersebut setelah pihaknya mengetahui bahwa pemegang saham pengendali lama telah menandatangani perjanjian untuk menjual seluruh sahamnya. “Kami sampaikan bahwa pada hari Senin, 25 Mei 2026, telah dilakukan penandatanganan Pengikatan Jual Beli…

Regulasi

SumbarSumbarbisnis.com JAKARTA. PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) membukukan penurunan laba bersih sepanjang kuartal I tahun 2026. Berdasarkan laporan keuangan yang dirilis akhir pekan lalu, laba periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp 4,34 triliun, menurun 21,8% secara tahunan. Ini sejalan dengan laba periode berjalan turun sebesar 17,57% secara year on year (yoy) menjadi Rp 6,05 triliun. Penurunan laba bersih…