Tutup
News

Pil Penurun Berat Badan Incar Pasar Obesitas Indonesia

292
×

Pil Penurun Berat Badan Incar Pasar Obesitas Indonesia

Sebarkan artikel ini
tangani-masalah-obesitas,-industri-kesehatan-ri-bakal-diperkenalkan-terapi-oral
Tangani Masalah Obesitas, Industri Kesehatan RI Bakal Diperkenalkan Terapi Oral

Jakarta – Obesitas di Indonesia menjadi masalah serius dengan tren yang terus meningkat. Kondisi ini tak hanya menurunkan kualitas hidup, tetapi juga meningkatkan risiko penyakit berbahaya seperti diabetes dan penyakit jantung.

Kabar baiknya,terapi oral atau obat minum kini semakin diminati sebagai solusi praktis.

Di Amerika Serikat, terapi penurun berat badan dalam bentuk pil hadir sebagai alternatif dari terapi suntik yang selama ini dikenal.

Perusahaan data kesehatan IQVIA Holdings Inc. melaporkan, salah satu produk yang diluncurkan adalah Wegovy versi oral, yang dikembangkan oleh perusahaan farmasi global Novo Nordisk.

“Wegovy versi pil mencatat 18.410 resep dalam pekan penuh pertama yang berakhir 16 Januari 2026,” demikian laporan IQVIA, Senin (2/2/2026).

Bahkan, dalam empat hari pertama sejak peluncuran pada 5 Januari 2026, obat ini telah memperoleh 3.071 resep. Angka ini menunjukkan respons awal yang cukup kuat dari pasien.

Peluncuran Wegovy tablet di Amerika serikat menargetkan pasien dengan skema pembiayaan mandiri (self-pay), karena sebagian besar asuransi belum menanggung obat penurun berat badan.

Dari sisi harga, dosis awal 1,5 mg dan 4 mg dipasarkan dengan harga US$149 per bulan, sementara dosis pemeliharaan 9 mg dan 25 mg dibanderol sekitar US$299 per bulan.

“Perusahaan juga mengumumkan rencana penyesuaian harga dosis 4 mg menjadi US$199 per bulan setelah pertengahan April,” tulis laporan tersebut.

Perkembangan global ini dinilai relevan dengan kondisi di Indonesia. Dengan angka obesitas yang terus meningkat, kebutuhan akan terapi yang efektif dan mudah dijalankan menjadi semakin penting.

Terapi oral dinilai lebih sesuai dengan kebiasaan masyarakat yang sudah terbiasa mengonsumsi obat dalam bentuk pil.

Namun, para pengamat kesehatan menekankan bahwa inovasi obat tidak bisa menjadi satu-satunya solusi.

“Pengendalian obesitas tetap memerlukan perubahan gaya hidup, mulai dari pola makan sehat, peningkatan aktivitas fisik, hingga edukasi kesehatan yang berkelanjutan,” ujar laporan tersebut.

Aspek keterjangkauan juga menjadi perhatian. Jika terapi inovatif seperti ini suatu saat tersedia di Indonesia, diperlukan kajian menyeluruh terkait harga, regulasi, serta kemungkinan integrasinya ke dalam sistem layanan kesehatan nasional.

Dengan struktur pembiayaan yang berbeda dari Amerika Serikat,kebijakan akses harus dirancang agar manfaatnya dapat dirasakan secara luas.