JAKARTA – PT Aneka Tambang Tbk (Antam) mencatat penurunan kinerja produksi emas sepanjang tahun lalu. Produksi emas perusahaan anjlok 27% secara tahunan (year-on-year/yoy), dari 1,01 ton pada 2024 menjadi 743 kilogram (kg). Realisasi ini sekaligus tercatat tidak mencapai target yang telah ditetapkan.
Direktur Utama PT Antam, Untung Budiharto, menjelaskan bahwa penurunan tersebut disebabkan oleh kebijakan perusahaan yang memprioritaskan pasokan emas untuk kebutuhan dalam negeri sepanjang 2025. Penjelasan ini disampaikan Untung dalam rapat dengar pendapat bersama Komisi XII DPR RI, Senin (13/4).
Selain emas, produksi feronikel juga mengalami kontraksi sebesar 20%, turun dari 20,1 ribu ton menjadi 16 ribu ton. Untung mengungkapkan bahwa tantangan utama dalam segmen ini adalah keterbatasan penjualan yang dipengaruhi oleh kebijakan Harga Patokan Mineral.
Meski dua komoditas tersebut mengalami penurunan, kinerja Antam pada sektor lain justru menunjukkan capaian positif. Produksi dan penjualan untuk bijih nikel, bauksit, dan alumina terpantau melampaui target yang dipatok perusahaan.
Berikut adalah rincian kinerja produksi dan penjualan komoditas Antam:
Bijih Nikel
* Produksi naik 62%, dari 9,93 juta wet metric ton (wmt) menjadi 16,11 juta wmt.
* Penjualan naik 75%, dari 8,35 juta wmt menjadi 14,58 juta wmt.
Feronikel
* Produksi turun 20%, dari 20,1 ribu ton menjadi 16,06 ribu ton.
* Penjualan turun 40%, dari 19,45 ribu ton menjadi 10,52 ribu ton.
Emas
* Produksi turun 27%, dari 1,01 ton menjadi 743 kg.
* Penjualan turun 15%, dari 43,77 ton menjadi 37,36 ribu ton.
Bijih Bauksit
* Produksi naik 112%, dari 1,33 juta wmt menjadi 2,82 juta wmt.
* Penjualan naik 157%, dari 736 ribu ton menjadi 1,88 juta wmt.
Alumina
* Produksi naik 23%, dari 147 ribu ton menjadi 181 ribu ton.
* Penjualan naik 2%, dari 177 ribu ton menjadi 179 ribu ton.
Di sisi lain, Untung memaparkan proyeksi produksi mineral Antam untuk tahun ini yang mengacu pada Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026. Perusahaan menargetkan produksi bijih nikel sebesar 16 juta wmt, bauksit 4,6 juta wmt, serta emas dari tambang Pongkor sebesar 935 kg.
“Target ini mencerminkan upaya kami menjaga stabilitas produksi sekaligus mendukung kebutuhan hilirisasi nasional,” ujar Untung.







