Tutup
Regulasi

Prospek Reksadana Syariah 2026: Peluang Investasi Saham & Obligasi

491
×

Prospek Reksadana Syariah 2026: Peluang Investasi Saham & Obligasi

Sebarkan artikel ini

Jakarta – Kinerja reksadana syariah diperkirakan tetap moncer di tahun 2026. Optimisme ini didorong oleh prospek cerah pasar saham dan obligasi domestik, serta tren penurunan suku bunga yang terus berlanjut. Kondisi ini diyakini akan menopang pertumbuhan dana kelolaan dan imbal hasil investasi.

Data Infovesta menunjukkan, indeks reksadana saham syariah mencatat *return* fantastis sebesar 35,38% secara *year to date* (YTD) per 22 Desember 2025.

Angka ini jauh melampaui kinerja reksadana syariah lainnya. Reksadana campuran syariah mencatat *return* 17,41%, reksadana pendapatan tetap syariah 7,68%, dan reksadana pasar uang syariah 4,75%.

Lonjakan pasar saham dan penurunan *yield* obligasi sepanjang 2025 menjadi faktor utama yang mendongkrak kinerja reksadana syariah. Hal ini diungkapkan oleh Research Analyst Infovesta Kapital Advisori, Arjun Ajwani.

“Prospeknya bagus di 2026 seiring dengan prospek positif pasar saham dan pasar obligasi domestik secara umum,” ujarnya.

Arjun menambahkan, sentimen positif pada tahun depan diperkirakan akan semakin kuat berkat pemangkasan suku bunga, inflasi yang terkendali, dan meredanya ketegangan geopolitik serta perdagangan global.

Stimulus pemerintah dan peningkatan belanja negara juga akan turut mengangkat sentimen pasar, meskipun risiko pelebaran defisit APBN tetap perlu diwaspadai.

Kepala Unit Pengelola Investasi Syariah PT Samuel Aset Manajemen, Budi Santoso, mengungkapkan bahwa reksadana saham syariah menjadi produk dengan kinerja terbaik di perusahaannya sepanjang 2025.

Sektor energi, komoditas, dan telekomunikasi menjadi kontributor utama dalam portofolio reksadana saham syariah.

Melihat tren positif ini, Budi optimistis bahwa industri reksadana syariah akan terus tumbuh pada 2026, baik dari sisi dana kelolaan maupun imbal hasil.

Pemulihan laba emiten diperkirakan akan menjadikan reksadana saham syariah sebagai primadona. Sementara itu, reksadana pendapatan tetap syariah berpotensi mencatatkan kinerja stabil seiring dengan penurunan suku bunga yang mendorong harga sukuk.

Budi juga menambahkan, pangsa dana kelolaan reksadana syariah berpotensi meningkat hingga mendekati 10% dari total industri. Hal ini didorong oleh literasi keuangan syariah dan minat yang semakin besar dari investor ritel.

Meskipun demikian, Budi mengingatkan bahwa kinerja reksadana syariah pada 2026 tidak lepas dari risiko pasar, terutama ketidakpastian geopolitik global, valuasi saham yang mulai tinggi di sejumlah sektor, serta dinamika kebijakan pemerintah yang terus menjadi perhatian investor.

Dengan kombinasi sentimen makroekonomi yang positif dan fundamental pasar yang semakin baik, reksadana syariah dipandang masih memiliki ruang untuk mencatatkan kinerja kompetitif pada tahun depan.

Regulasi

SumbarSumbarbisnis.com JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akhirnya terkoreksi setelah mencatat penguatan selama lima hari berturut-turut. Meski sempat dibuka di zona hijau, tekanan jual membuat IHSG berbalik arah dan ditutup melemah pada akhir perdagangan Rabu (15/4/2026). Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) melalui RTI, IHSG turun 0,68% atau terkoreksi 52,36 poin ke level 7.623,58. Baca Juga: Reli IHSG Terhenti SumbarSumbarbisnis.com Sell Asing…