Jakarta – Perdagangan valuta asing (valas) pada hari ini menunjukkan pergerakan yang bervariasi di pasar Asia. Sejumlah mata uang mencatatkan penguatan, sementara yang lainnya mengalami pelemahan.
Baht Thailand (THB) memimpin penguatan di antara mata uang Asia, naik 0,34% menjadi 31,51 terhadap dolar AS.
Ringgit Malaysia juga menguat 0,33% ke level 4,047, diikuti oleh Yuan China (CNY) yang naik 0,25% menjadi 6,98, Rupee India (INR) menguat 0,19% ke 89,80, dan Yen Jepang (JPY) naik tipis 0,11% ke level 155,89.
Di sisi lain, Won Korea Selatan (KRW) mengalami penurunan tajam sebesar 1,02% ke 1.448,82, dan Dolar Hongkong (HKD) terkoreksi 0,10% ke 7,781.
Analis Valbury Asia Futures, Nanang Wahyudin, menjelaskan bahwa secara umum, mata uang Asia cenderung stabil atau menguat terhadap dolar AS di penghujung tahun 2025.
“Hal ini didorong oleh pelemahan dolar AS pasca berakhirnya *shutdown government* dan data ekonomi yang menunjukkan perlambatan,” ujar Nanang.
Selain itu, volume perdagangan yang tipis akibat libur akhir tahun turut mengurangi volatilitas di pasar mata uang Asia.
Ekspektasi pemangkasan suku bunga oleh The Fed pada tahun depan, yang diproyeksikan sebanyak dua kali, juga menjadi faktor pendorong.
Nanang menyoroti USDJPY sebagai mata uang yang menarik karena pelemahannya. Ia memproyeksikan area resisten di level 156 – 157 per dolar AS akan menjadi perhatian Bank of Japan (BoJ) yang tidak menginginkan pelemahan yang terlalu agresif.
Isu intervensi diperkirakan akan menguat jika Yen memasuki area 156.000 – 157.000.
Selain Rupiah, Ringgit dan Baht juga dinilai menarik karena sentimen positif dari arus modal atau ekspor. Sementara Yuan didukung oleh prospek pelonggaran likuiditas oleh People’s Bank of China (PBOC).
Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, mencatat bahwa pergerakan JPY dipengaruhi oleh ekspektasi suku bunga BoJ, *carry trade,* dan potensi intervensi.
Dolar Taiwan (TWD) didukung oleh sektor manufaktur di tengah *booming* teknologi.
Sementara itu, KRW melemah karena prospek pertumbuhan ekonomi yang lebih lemah, dan Rupiah tertekan oleh prospek pemangkasan suku bunga oleh Bank Indonesia (BI).
CNY didukung oleh ekonomi yang *resilient* serta rekor *trade surplus*, menentang kekhawatiran terkait tarif.
Lukman memproyeksikan JPY berpotensi menguat ke level 155 pada hari Rabu (31/12), sedangkan KRW diperkirakan berkisar di level 1.405 – 1.420.
Pengamat Mata Uang, Ibrahim Assuaibi, memperkirakan Rupiah akan bergerak fluktuatif pada hari Rabu (31/12), namun ditutup melemah pada rentang Rp 16.770 – Rp 16.800 per dolar AS.







