Regulasi

Purbaya Kaji Potensi Pendapatan Ekspor melalui DSI

134
×

Purbaya Kaji Potensi Pendapatan Ekspor melalui DSI

Sebarkan artikel ini

JAKARTA – Pemerintah mulai memberlakukan kebijakan ekspor komoditas sumber daya alam (SDA) melalui PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) per 1 Juni 2026. Kebijakan ini menyasar tiga komoditas strategis, yakni batu bara, paduan besi (ferro alloy), dan kelapa sawit.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menjelaskan bahwa pihaknya saat ini masih menghitung potensi penerimaan negara yang akan dihasilkan dari skema baru tersebut. Meski masa transisi telah resmi dimulai, ia mengaku belum bisa memberikan angka pasti terkait dampak kebijakan ini terhadap kas negara.

“Sudah dihitung, namun angkanya belum final. Karena ini baru pertama kali diterapkan, kami masih terus melakukan kalkulasi untuk melihat dampaknya secara menyeluruh,” ujar Purbaya dalam konferensi pers persiapan operasional PT DSI di Jakarta, Minggu (31/5/2026).

Purbaya memastikan Kementerian Keuangan akan melakukan evaluasi berkala setiap tiga bulan. Data mengenai dampak ekonomi DSI terhadap penerimaan negara diperkirakan baru akan terlihat jelas pada tiga bulan ke depan.

PT DSI sendiri ditetapkan sebagai badan usaha milik negara (BUMN) yang berfungsi sebagai pengekspor tunggal untuk komoditas SDA strategis. Langkah ini diambil pemerintah untuk memperkuat tata kelola ekspor serta meminimalisir praktik kecurangan seperti *under-invoicing* (pelaporan harga di bawah nilai sebenarnya) dan *transfer pricing*.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan bahwa ketiga komoditas tersebut merupakan tulang punggung surplus perdagangan Indonesia. Sepanjang tahun 2025, ekspor batu bara, kelapa sawit, dan ferro alloy mencatatkan nilai sebesar US$ 66,13 miliar atau setara 23,4 persen dari total ekspor nasional.

“Komoditas ini merupakan penopang utama surplus neraca perdagangan yang telah terjaga selama 71 bulan berturut-turut,” jelas Airlangga.

Berdasarkan data Kemenko Perekonomian, kontribusi nilai ekspor batu bara mencapai US$ 24,48 miliar, diikuti oleh minyak sawit mentah (CPO) sebesar US$ 24,42 miliar, dan ferro alloy sebesar US$ 16,49 miliar.

Regulasi

SumbarSumbarbisnis.com JAKARTA. Tekanan di pasar keuangan domestik masih membayangi kinerja industri reksadana. Di tengah pelemahan pasar saham dan meningkatnya volatilitas nilai tukar rupiah, manajer investasi memilih memperkuat kualitas portofolio melalui seleksi emiten berbasis fundamental guna menjaga kinerja reksadana saham hingga kuartal III 2026. Baca Juga: Rupiah Masih Rentan, Berisiko Tembus Rp 19.000 per Dolar AS di Akhir Juni 2026 Berdasarkan…

Regulasi

SumbarSumbarbisnis.com JAKARTA. Pasar keuangan domestik saat ini masih menghadapi tekanan yang cukup besar. Di pasar saham, misalnya, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) telah merosot sekitar 35,3% sejak awal tahun 2026 ke level 5.594,76. Tekanan juga terjadi di pasar keuangan secara lebih luas seiring pelemahan nilai tukar rupiah yang kini berada di kisaran Rp 18.000 per dolar AS. Dalam situasi yang penuh tantangan seperti saat ini, investor tampaknya…