Valuta

Rupiah Menguat 0,80% Sepekan, Pasar Fokus Pantau Keputusan RDG BI

92
×

Rupiah Menguat 0,80% Sepekan, Pasar Fokus Pantau Keputusan RDG BI

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi mata uang rupiah Indonesia dengan latar belakang grafik perdagangan keuangan yang meningkat
Nilai tukar rupiah mencatatkan penguatan sebesar 0,80% dalam sepekan terakhir.

JAKARTA – Nilai tukar rupiah melanjutkan tren penguatan selama empat hari perdagangan berturut-turut hingga penutupan pasar pada Jumat (17/7/2026). Penguatan mata uang garuda ini didorong oleh aliran masuk dana asing ke pasar keuangan domestik.

Kurs rupiah di pasar spot tercatat menguat 0,36% atau Rp 65 ke level Rp 17.921 per dolar Amerika Serikat (AS). Secara akumulatif dalam sepekan, rupiah berhasil menguat 0,80% dibandingkan posisi pada Jumat (10/7/2026) yang berada di level Rp 18.065 per dolar AS.

Tren serupa juga terlihat pada kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor). Rupiah Jisdor menguat 0,54% atau Rp 97 menjadi Rp 17.944 per dolar AS pada penutupan perdagangan akhir pekan lalu.

Dalam periode mingguan, kurs Jisdor mencatatkan kenaikan sebesar 0,69%. Angka ini menunjukkan perbaikan posisi dari Rp 18.069 per dolar AS pada akhir pekan sebelumnya.

Analis pasar keuangan menyebutkan bahwa sentimen utama penguatan rupiah berasal dari kembalinya minat investor asing. Dana asing terpantau masuk ke sektor obligasi dan ekuitas domestik secara signifikan.

Selain arus modal masuk, pelemahan indeks dolar AS (DXY) turut memberikan ruang bagi rupiah untuk terapresiasi. Penurunan harga minyak mentah dunia juga menjadi faktor pendukung eksternal yang memberikan sentimen positif bagi mata uang domestik.

Memasuki pekan depan, pergerakan nilai tukar diperkirakan masih akan dipengaruhi oleh dinamika geopolitik di Timur Tengah. Di sisi lain, indikator ekonomi domestik yang mulai menunjukkan perbaikan diharapkan mampu menahan volatilitas rupiah.

Pelaku pasar saat ini tengah mengalihkan fokus pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia. Pertemuan tersebut dijadwalkan berlangsung pada Selasa dan Rabu, 21-22 Juli 2026.

Terdapat ekspektasi di kalangan analis bahwa Bank Indonesia masih memiliki peluang untuk menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin. Langkah ini dinilai krusial sebagai upaya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah ketidakpastian global.

Proyeksi untuk perdagangan hari Senin (20/7/2026) menunjukkan rupiah berpotensi bergerak dalam rentang Rp 17.900 hingga Rp 18.000 per dolar AS. Stabilitas di kisaran tersebut akan sangat bergantung pada sentimen kebijakan moneter yang akan diambil oleh otoritas fiskal dan moneter dalam waktu dekat.

Secara teknikal, penguatan rupiah yang konsisten selama empat hari menunjukkan adanya kepercayaan investor terhadap fundamental ekonomi Indonesia. Meskipun tekanan global masih membayangi, aliran modal asing yang masuk menjadi indikator ketahanan pasar domestik saat ini.

Para pelaku pasar kini menanti langkah strategis Bank Indonesia sebagai respons terhadap kondisi ekonomi terkini. Keputusan dalam rapat mendatang diprediksi akan menjadi penentu arah pergerakan mata uang nasional pada sisa bulan Juli 2026.