Jakarta – Harga Bitcoin (BTC) kembali terkoreksi hingga di bawah level US$100 ribu. Penurunan ini terjadi di tengah dinamika pasar aset digital dan ketidakpastian ekonomi global.
Vice President Indodax,Antony Kusuma,menjelaskan bahwa pasar kripto kembali melemah setelah harga BTC menembus level support di kisaran US$96.000.
“Penurunan harga Bitcoin di bawah 100.000 dolar AS dipengaruhi oleh beberapa faktor makro yang bersifat eksternal,” ujar Antony, Sabtu (15/11/2025).
Menurutnya, fluktuasi harga saat ini merupakan bagian dari konsolidasi pasar menuju fase pematangan. Ketidakpastian kebijakan suku bunga masih menjadi faktor utama penentu arah pergerakan harga Bitcoin.
“Kebijakan suku bunga The Fed memiliki imbas terhadap pergerakan harga Bitcoin,” katanya.
Volatilitas pasar diperkirakan akan tetap tinggi selama arah kebijakan masih belum pasti. Investor cenderung menunggu kejelasan sebelum kembali masuk ke pasar.
Sinyal pemangkasan suku bunga di bulan Desember dapat menjadi titik balik penting. Perubahan arah kebijakan moneter berpotensi membuka ruang pemulihan harga di pasar kripto global.
“Dengan berakhirnya shutdown dan operasional regulator kembali berjalan, pasar memiliki ruang untuk menata ulang arah dalam beberapa minggu ke depan,” jelas antony.
Ia mengimbau investor untuk tetap tenang dan fokus pada prinsip manajemen risiko. Koreksi harga adalah bagian dari mekanisme pasar.
“Setiap investor perlu meninjau kembali strategi investasi jangka panjang sesuai profil risiko masing-masing,” pungkasnya.







