JAKARTA – Lembaga pemeringkat internasional Standard & Poor’s (S&P) resmi mempertahankan peringkat kredit Indonesia dengan outlook stabil. Keputusan ini menjadi sinyal positif bagi kredibilitas kebijakan ekonomi nasional di tengah tekanan pasar global.
Langkah S&P ini memberikan dorongan kepercayaan bagi investor setelah sebelumnya Moody’s dan Fitch merevisi outlook Indonesia menjadi negatif. Keputusan tersebut dinilai mampu meredakan kekhawatiran pelaku pasar terhadap tata kelola ekonomi dan ekspansi fiskal pemerintah.
Analis Maybank Sekuritas Indonesia, Jeffrosenberg Chenlim, menyatakan bahwa penegasan peringkat ini berpotensi menurunkan premi risiko negara atau country risk premium. Hal ini secara langsung memperkuat kepercayaan investor asing dan menjadi katalis positif bagi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
Maybank Sekuritas Indonesia menetapkan target IHSG di level 7.500 hingga akhir tahun 2026. Meski tetap optimistis, perusahaan sekuritas tersebut mengimbau investor untuk menerapkan pendekatan investasi yang berhati-hati.
S&P memproyeksikan ekonomi Indonesia akan tumbuh sebesar 5,1% pada 2026. Pertumbuhan itu diperkirakan berlanjut dengan rata-rata 4,9% per tahun pada periode 2026 hingga 2029.
Kinerja ekonomi tersebut ditopang oleh kuatnya permintaan domestik dan investasi. Dukungan kebijakan pemerintah juga menjadi faktor kunci dalam menjaga stabilitas pertumbuhan di masa depan.
Defisit fiskal Indonesia diprediksi tetap berada di bawah batas maksimal 3% terhadap produk domestik bruto (PDB). Proyeksi ini didukung oleh pemulihan penerimaan negara serta fleksibilitas pengelolaan belanja pemerintah.
Disiplin fiskal dan rasio utang pemerintah yang terjaga menjadi pondasi utama peringkat layak investasi Indonesia. Namun, S&P tetap memberikan catatan mengenai potensi risiko di masa mendatang.
Tekanan terhadap peringkat kredit dapat muncul jika terjadi pelemahan fiskal secara struktural. Hal ini mencakup defisit anggaran yang melebar, penurunan penerimaan negara, serta beban pembayaran utang yang membengkak.
Risiko juga dipengaruhi oleh posisi eksternal, seperti defisit transaksi berjalan yang melebar. Selain itu, pelemahan nilai tukar rupiah yang berkepanjangan dan ketergantungan pada pembiayaan asing menjadi faktor yang diwaspadai.
Maybank menilai bahwa pelemahan kondisi ekonomi saat ini masih bersifat siklikal dan bukan struktural. Pandangan ini sejalan dengan penilaian S&P yang memperkuat prospek pasar saham dalam jangka panjang.
Valuasi banyak saham di IHSG saat ini dinilai berada di bawah kisaran minus 1,5 standar deviasi. Kondisi ini menciptakan peluang investasi yang menarik bagi investor jangka panjang.
Strategi investasi yang disarankan adalah berfokus pada perusahaan berkualitas tinggi dengan keunggulan kompetitif. Investor diminta memilih emiten dengan manajemen kuat, neraca sehat, dan laba yang tangguh dalam berbagai siklus ekonomi.
Beberapa saham pilihan utama untuk investasi jangka panjang meliputi Kalbe Farma (KLBF) dan Mitra Keluarga Karyasehat (MIKA). Selain itu, saham Bank Central Asia (BBCA), Indocement Tunggal Prakarsa (INTP), serta Astra Otoparts (AUTO) turut direkomendasikan.






