Tutup
Perbankan

Strategi Pedagang Warteg Bertahan di Tengah Lonjakan Harga Pangan

89
×

Strategi Pedagang Warteg Bertahan di Tengah Lonjakan Harga Pangan

Sebarkan artikel ini
siasat-pedagang-warteg-hindari-fenomena-aneh-pembeli-‘in-this-economy’
Siasat Pedagang Warteg Hindari Fenomena Aneh Pembeli ‘In This Economy’

Jakarta – Gelombang kenaikan harga bahan pokok memaksa para pengusaha warteg di Jakarta memutar otak demi mempertahankan kelangsungan bisnis. Mereka kini harus lebih kreatif mengatur strategi agar tetap bisa melayani pelanggan tanpa harus menaikkan harga jual secara drastis.

Amirah, seorang pedagang di Jakarta Pusat, menuturkan bahwa perilaku konsumen kini telah berubah mengikuti kondisi ekonomi. Pelanggan cenderung lebih selektif dengan memilih lauk yang ramah di kantong, seperti tempe, tahu, telur balado, dan aneka sayuran.

“Pembeli mulai jarang mengambil ayam goreng atau daging sapi. Mereka lebih memilih menu dengan harga kisaran Rp10 ribu sampai Rp15 ribu,” ungkap Amirah.

Hal serupa juga diterapkan Juminah, pemilik Warteg Bahari di Lenteng Agung, Jakarta Selatan. Untuk menyiasati lonjakan biaya produksi, ia memilih tidak lagi menyediakan olahan daging sapi yang harganya melambung tinggi.

Tak hanya itu, Juminah melakukan penyesuaian porsi pada menu ayam dengan membagi satu ekor menjadi 12 potong, dari yang sebelumnya hanya 10 potong. Langkah ini diambil karena ia khawatir jika harga dinaikkan, pelanggan akan beralih ke warung lain.

“Kami tidak berani menaikkan harga karena takut pelanggan pindah ke warung lain. Kami lebih memilih mengurangi margin keuntungan,” ujar Juminah.

Di kawasan Tanjung Barat, pengelola warung nasi, Ilham, juga mengambil kebijakan serupa demi menjaga loyalitas pelanggan. Ia tetap mematok harga Rp17 ribu untuk menu standar agar omzet harian tetap terjaga di atas Rp1 juta.

Meskipun terdapat menu premium seperti udang yang dibanderol Rp20 ribu, Ilham tetap menyediakan banyak pilihan lauk ekonomis. Strategi ini terbukti efektif menjaga arus kas warungnya tetap stabil di tengah situasi ekonomi yang menantang.

Di sisi lain, para pelanggan menyambut positif siasat yang dilakukan para pedagang kecil ini. Sobri, seorang pengemudi ojek online, mengaku sangat terbantu dengan adanya opsi lauk terjangkau di warteg.

“Biasanya saya makan dengan budget Rp13 ribu sampai Rp15 ribu. Pilihan lauk sederhana ini sangat membantu kami di lapangan,” tutur Sobri.