Tutup
EkonomiEnergiNews

Timur Tengah Bergejolak, Harga Minyak Dunia Meroket

211
×

Timur Tengah Bergejolak, Harga Minyak Dunia Meroket

Sebarkan artikel ini
harga-minyak-dunia-sentuh-us$117,-ancaman-trump-ke-iran-picu-perang-kian-panas
Harga Minyak Dunia Sentuh US$117, Ancaman Trump ke Iran Picu Perang Kian Panas

Jakarta – Harga minyak dunia melonjak tajam akibat tensi geopolitik yang memanas di Timur Tengah. Pada awal perdagangan Senin (30/3/2026), harga minyak mentah Brent sempat menyentuh US$117 atau setara Rp 1,98 juta per barel.

Lonjakan harga minyak ini dipicu oleh ancaman Presiden AS Donald Trump terhadap Iran. Meski demikian, Trump juga membuka peluang adanya kesepakatan damai.

Business Insider melaporkan, kontrak minyak Brent untuk pengiriman Mei naik sekitar 1 persen menjadi US$114 atau sekitar Rp 1,93 juta per barel.

Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) juga mengalami kenaikan sebesar 2,5 persen menjadi US$102 atau sekitar rp 1,73 juta per barel.

Trump menegaskan, AS siap mengambil tindakan tegas jika kesepakatan dengan Iran gagal dan Selat Hormuz tidak dibuka. Bahkan, ia mengancam akan menghancurkan aset energi Iran.

“Jika kesepakatan gagal dan Selat Hormuz tidak segera dibuka, kami akan mengakhiri ‘kehadiran’ kami di Iran dengan menghancurkan seluruh pembangkit listrik, ladang minyak, dan pulau Kharg,” tegas Trump.

eskalasi konflik juga dipicu oleh serangan rudal dan drone dari kelompok Houthi Yaman ke Israel. Aksi ini menandai keterlibatan langsung mereka dalam konflik yang telah berlangsung selama lima pekan.

Analis pasar dari AJ Bell, danni Hewson, menilai bahwa situasi ini memperburuk sentimen pasar global, terutama di sektor energi.

“Ketegangan pasar terhadap situasi di Timur Tengah terus meningkat seiring konflik Iran memasuki minggu kelima,” kata Hewson.

Lonjakan harga minyak ini menjadi perhatian sejak serangan militer AS dan Israel ke Iran pada akhir Februari 2026. Respons Iran yang hampir menutup Selat Hormuz memperparah kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan.

Volatilitas harga minyak diperkirakan akan tetap tinggi dalam waktu dekat, seiring dengan ketidakpastian geopolitik yang belum mereda.