Tutup
BisnisEkonomiPerbankan

Unilever Efisienkan Biaya, SDM Terdampak, Daya Saing Meningkat

348
×

Unilever Efisienkan Biaya, SDM Terdampak, Daya Saing Meningkat

Sebarkan artikel ini
efisiensi,-unilever-tekan-biaya-tenaga-kerja-hingga-20-persen
Efisiensi, Unilever Tekan Biaya Tenaga Kerja hingga 20 Persen

Jakarta – PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) melakukan efisiensi besar-besaran dalam struktur biaya operasionalnya. Langkah ini termasuk penyesuaian tenaga kerja yang berujung pada penurunan biaya sumber daya manusia lebih dari 20 persen.

Presiden Direktur Unilever Indonesia, Benjie yap, menjelaskan kebijakan ini sebagai bagian dari strategi jangka panjang perusahaan. Tujuannya adalah memperkuat daya saing biaya.

“Kami telah menata ulang biaya tenaga kerja sehingga berhasil mengamankan penurunan lebih dari 20 persen,” ujar Benjie dalam konferensi pers daring, Kamis (12/2).

Menurutnya, struktur biaya perusahaan akan menjadi lebih kompetitif. Manfaat dari efisiensi ini diharapkan mulai terasa sejak 2026.

Benjie menjelaskan bahwa efisiensi ini adalah bagian dari transformasi operasional yang lebih luas. Sepanjang 2025,perusahaan mencatat penguatan fundamental bisnis.

Penguatan ini didorong oleh peningkatan volume penjualan, kontribusi harga, serta efisiensi biaya produksi. Capaian ini menunjukkan bahwa inti bisnis perusahaan semakin produktif dan kompetitif.

“Pada 2025, kami melihat fundamental bisnis yang lebih kuat. Volume tumbuh 4,8 persen, kontribusi harga 2,8 persen, dan kami mencatat peningkatan efisiensi biaya produksi per ton sebesar 10 persen berkat program transformasi dan produktivitas,” katanya.

Meski kinerja operasional membaik, tekanan eksternal seperti inflasi bahan baku, terutama minyak sawit, serta faktor nilai tukar tetap memengaruhi margin.

Margin kotor kuartal IV-2025 sempat menurun karena biaya transformasi.Namun, biaya ini bersifat satu kali dan diharapkan memberi dampak positif pada 2026.

Perusahaan juga menjalankan strategi efisiensi lain di rantai pasok. Ini termasuk integrasi hulu rantai nilai sawit, peningkatan otomatisasi pabrik, pemanfaatan kecerdasan buatan untuk perawatan prediktif, serta penerapan lini produksi fleksibel berkecepatan tinggi.

Selain itu, disiplin biaya pada pos operasional turut diperketat. Hasilnya, rasio beban biaya penjualan, umum, dan administrasi (SG&A) turun signifikan.

“Basis biaya kami kini lebih ramping, produktif, dan skalabel,” pungkas Benjie.