Padang – Tahun 2025 menjadi periode yang penuh tantangan bagi para pelaku industri kreatif dan vendor digital di Indonesia.
Kebijakan efisiensi anggaran pemerintah yang tertuang dalam Instruksi Presiden (Inpres) No. 1 Tahun 2025 telah menciptakan efek domino yang signifikan, terutama pada sektor jasa penyelenggaraan acara (event) dan layanan pendukungnya seperti live streaming.
Di tengah situasi ini, Ikhwan, Founder dari SumbarLive, sebuah penyedia jasa Live Streaming Digital Event, Seminar, dan Wedding terkemuka di Sumatera Barat, berbagi pandangannya mengenai kondisi pasar yang sedang mengalami kelesuan.
Menurutnya, perubahan kebijakan anggaran pemerintah pusat hingga daerah telah mengubah peta permintaan jasa digital secara drastis.
Sektor pemerintahan selama ini menjadi salah satu penyumbang pendapatan terbesar bagi vendor live streaming.
Seminar, rapat koordinasi, hingga sosialisasi kebijakan yang sebelumnya kerap dilakukan secara hybrid (gabungan luring dan daring), kini banyak yang dipangkas atau dialihkan menjadi pertemuan daring sederhana melalui platform mandiri tanpa bantuan vendor profesional.
“Tahun 2025 ini benar-benar menjadi masa transisi yang sulit. Kebijakan efisiensi pemerintah membuat banyak proyek kementerian dan lembaga yang biasanya memerlukan jasa multi-camera dan transmisi stabil kini ditunda atau bahkan dibatalkan,” ujar Ikhwan di Padang, Senin (22/12/2025).
Bagi SumbarLive, yang melayani pasar lokal dan regional, penurunan permintaan dari sektor formal ini mencapai angka yang cukup mengkhawatirkan.
Menghadapi penurunan di sektor publik, Ikhwan mulai mengalihkan fokus strateginya.
Sektor pernikahan (wedding) dan acara privat menjadi tumpuan baru agar roda bisnis tetap berputar. Namun, tantangan di sektor ini pun tidak kalah besar.
Daya beli masyarakat yang ikut terdampak kondisi ekonomi membuat penyelenggara acara harus lebih selektif dalam memilih vendor.
“Kami tidak bisa hanya diam menunggu anggaran pemerintah turun. Sekarang kami lebih agresif masuk ke pasar wedding premium dan digital event untuk korporasi swasta yang masih memiliki anggaran promosi,” tambah Ikhwan.
Meskipun permintaan secara kuantitas menurun, Ikhwan menekankan bahwa kualitas tetap menjadi pembeda.
Di tahun 2025, klien tidak lagi hanya mencari “siaran langsung”, tetapi mencari “pengalaman visual”.
Hal inilah yang membuat SumbarLive terus melakukan inovasi pada teknik pengambilan gambar dan interaktivitas siaran agar tetap relevan di mata klien swasta.
Ikhwan percaya kunci bertahan di tahun 2025 adalah adaptasi teknologi.
Ketika anggaran menyusut, klien menginginkan solusi yang efisien namun tetap terlihat profesional.
SumbarLive merespons hal ini dengan menawarkan paket-paket streaming yang lebih fleksibel dan berbasis teknologi terbaru, seperti penggunaan kamera nirkabel dan sistem distribusi konten yang lebih hemat bandwidth.
“Efisiensi bukan berarti kualitas harus turun. Justru dengan efisiensi, kita dipaksa untuk lebih kreatif dalam mengemas acara agar meskipun dilakukan secara minimalis, pesan dan visualnya tetap sampai ke audiens dengan jernih,” jelasnya.
Ikhwan berharap pemerintah dapat melihat sektor industri event dan vendor digital adalah bagian dari ekonomi kreatif yang menyerap banyak tenaga kerja lokal, mulai dari operator kamera, editor, hingga teknisi jaringan.
Ia berharap kebijakan efisiensi ini juga diiringi dengan skema pendukung bagi UMKM jasa digital agar tidak gulung tikar.
Meskipun tahun 2025 terasa berat, Ikhwan tetap optimistis bahwa kebutuhan akan dokumentasi digital dan konektivitas real-time tidak akan pernah hilang.
“Teknologi live streaming akan terus berevolusi. Kami di SumbarLive siap mengikuti arus tersebut, meskipun saat ini ombaknya sedang cukup tenang karena faktor ekonomi,” tutupnya dengan nada optimis.







