JAKARTA – Pemerintah menetapkan sektor pariwisata sebagai motor penggerak utama pertumbuhan ekonomi nasional pada semester II 2026. Fokus ini diambil karena industri pariwisata dinilai memiliki dampak langsung yang signifikan terhadap aktivitas ekonomi di berbagai daerah di Indonesia.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan, sektor pariwisata terbukti mampu tumbuh melampaui rata-rata nasional. Pemerintah akan menjadikan sektor ini sebagai low hanging fruit atau peluang yang mudah dicapai untuk mendongkrak kinerja ekonomi di tengah ketidakpastian global.
Airlangga menyebutkan, kinerja ekonomi di wilayah yang mengandalkan pariwisata, seperti Bali dan Nusa Tenggara, menunjukkan tren positif yang signifikan. Pertumbuhan ekonomi di kedua wilayah tersebut terpantau berada di atas rata-rata pertumbuhan nasional.
Pemerintah Provinsi Bali sendiri mencatat realisasi Pendapatan Asli Daerah (PAD) hingga semester pertama 2026 menembus angka Rp9,28 triliun. Capaian tersebut mencatatkan kenaikan sebesar 7,26 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Selain Bali, pemerintah juga terus mendorong pengembangan potensi wisata di berbagai destinasi lain di tanah air. Upaya ini sejalan dengan komitmen pemerintah dalam menjaga pertumbuhan ekonomi nasional agar tetap berada di atas level lima persen, sebagaimana tercatat pada semester I 2026 yang mencapai 5,45 persen.
Sebagai langkah konkret, pemerintah resmi menjalin kerja sama dengan Thailand untuk memperkuat konektivitas pariwisata. Kedua negara telah menyepakati pembukaan rute penerbangan langsung yang menghubungkan Phuket dengan Bali.
Rute baru ini diharapkan mampu meningkatkan arus kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia. Selain Phuket-Bali, pemerintah juga berencana menambah frekuensi penerbangan dari Bangkok melalui maskapai TransNusa untuk mempererat hubungan pariwisata bilateral.
Airlangga menjelaskan, langkah ini merupakan upaya untuk mengejar ketertinggalan jumlah kunjungan wisatawan. Saat ini, jumlah kunjungan turis ke Thailand mencapai 38 juta jiwa, sementara Indonesia baru mencapai kisaran 16 juta jiwa.
Selain pariwisata, pemerintah tetap menjadikan investasi sebagai pilar utama dalam menopang pertumbuhan ekonomi nasional. Berbagai program strategis nasional (PSN) terus dipacu untuk memastikan roda pembangunan di daerah tetap berjalan optimal.
Salah satu contoh implementasi program strategis adalah realisasi investasi di daerah seperti Kabupaten Batang Hari yang mencapai Rp594,5 miliar pada triwulan I-2026. Sektor perkebunan menjadi motor utama yang mendominasi arus modal masuk di wilayah tersebut.
Pemerintah juga memastikan bahwa program-program prioritas, seperti Program Makan Bergizi Gratis (MBG), terus berjalan sebagai bagian dari strategi pembangunan nasional. Hingga akhir Juli 2026, program ini telah menjangkau lebih dari satu juta penerima manfaat di berbagai wilayah.
Strategi pembangunan saat ini juga mulai mengintegrasikan prinsip keberlanjutan sebagai inti dari bisnis dan ekonomi. Pendekatan ini diharapkan mampu menjaga daya tahan ekonomi nasional di tengah berbagai tantangan global yang masih membayangi hingga akhir tahun 2026.






