Ekonomi

Sektor yang Mendulang Untung Saat Nilai Tukar Rupiah Melemah

46
×

Sektor yang Mendulang Untung Saat Nilai Tukar Rupiah Melemah

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi grafik mata uang dan aktivitas perdagangan internasional di pelabuhan
Sejumlah sektor berbasis ekspor berpotensi diuntungkan oleh pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.

JAKARTA – Depresiasi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat tidak serta-merta menjadi sinyal negatif bagi seluruh sendi perekonomian nasional. Sejumlah sektor berbasis ekspor dan industri jasa justru berpotensi mendapatkan keuntungan karena produk serta layanan Indonesia menjadi lebih kompetitif di pasar internasional.

Ekonom Makroekonomi dan Pasar Keuangan LPEM FEB UI, Teuku Riefky, dalam riset Indonesia Economic Outlook Q3-2026 yang dirilis Selasa (4/8), memaparkan bahwa pelemahan kurs dapat meningkatkan daya saing harga komoditas ekspor. Hal ini diharapkan mampu mendongkrak permintaan luar negeri sekaligus menambah cadangan devisa negara.

Minyak sawit tercatat sebagai komoditas yang paling diuntungkan dari kondisi ini. Sepanjang periode Januari hingga Mei 2026, kelompok lemak dan minyak hewani serta nabati menyumbang 13,55 persen dari total ekspor nonmigas Indonesia.

Meski demikian, dampak depresiasi terhadap ekspor sawit cenderung terbatas. Produksi komoditas ini membutuhkan waktu tumbuh yang panjang dan sebagian besar perdagangan dilakukan melalui kontrak jangka panjang dengan harga yang sudah dipatok sebelumnya.

Riset tersebut juga menyoroti sektor batu bara dan pertambangan yang berkontribusi signifikan terhadap neraca perdagangan. Kelompok bahan bakar mineral menyumbang 11,56 persen dari total ekspor Indonesia pada lima bulan pertama tahun 2026.

Namun, pengaruh pelemahan rupiah terhadap ekspor batu bara dan nikel dinilai tidak dominan. Permintaan global lebih banyak dipengaruhi oleh kebijakan hilirisasi pemerintah serta dinamika kebutuhan energi di negara pengimpor seperti Tiongkok.

Di luar sektor komoditas, industri pariwisata turut mendapatkan sentimen positif dari pelemahan kurs. Nilai tukar yang lebih rendah membuat biaya perjalanan ke Indonesia menjadi lebih terjangkau bagi wisatawan mancanegara.

Kendati demikian, korelasi antara pelemahan rupiah dan lonjakan kunjungan turis tidak selalu konsisten. Faktor musiman atau periode liburan sering kali menjadi penentu utama dibandingkan sekadar fluktuasi nilai tukar.

Volatilitas kurs yang terlalu tinggi justru dapat menjadi bumerang bagi sektor pariwisata. Ketidakpastian nilai tukar berisiko menghambat rencana perjalanan internasional karena dianggap sebagai faktor risiko ekonomi.

Sementara itu, pasar keuangan domestik menunjukkan pergerakan dinamis di tengah gejolak nilai tukar. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada sesi pertama perdagangan Selasa (4/8) terpantau menguat 0,57 persen ke level 6.270.

Investor asing terlihat memburu saham-saham berkapitalisasi besar di tengah fluktuasi pasar. Tercatat terjadi aksi beli bersih atau net buy oleh investor asing sebesar Rp39,50 miliar, dengan saham BBCA dan MDKA menjadi sasaran utama.

Secara keseluruhan, pelemahan rupiah memberikan ruang bagi sektor tertentu untuk meningkatkan daya saing. Namun, efektivitas manfaat tersebut tetap bergantung pada karakteristik permintaan global dan stabilitas ekonomi makro di dalam negeri.