JAKARTA – Nusantara Centre resmi meluncurkan buku berjudul “Soemitro Djojohadikusumo Anti Penjajahan” sebagai upaya untuk merevitalisasi pemikiran ekonomi Pancasila di tengah arus liberalisme ekonomi. Karya tulis ini disusun oleh Agus Rizal dan Dedi Setiadi untuk membedah relevansi gagasan sang begawan ekonomi dalam menjawab tantangan nasional saat ini.
Buku tersebut tidak sekadar menyajikan biografi perjalanan hidup Soemitro Djojohadikusumo. Fokus utama karya ini adalah mengangkat kembali pemikiran strukturalis yang dianggap sebagai “ekonomi kewarasan” bagi bangsa Indonesia.
Agus Rizal menyatakan bahwa buku ini merupakan respons terhadap dominasi neoliberalisme yang dinilai telah menjamur di sektor birokrasi dan ekonomi. Ia menyoroti fenomena maraknya oligarki yang menurutnya memerlukan penyeimbang berupa kebijakan ekonomi berbasis Pancasila.
Pemilihan Soemitro sebagai tokoh sentral dalam buku ini didasari oleh pengaruh besar sang ekonom dalam sejarah Indonesia. Selain itu, posisinya sebagai ayah dari Presiden Prabowo Subianto dianggap sangat relevan dengan upaya pemerintah dalam merumuskan arah pembangunan ekonomi ke depan.
Penulis berharap buku ini dapat menjadi rujukan strategis bagi para pengambil kebijakan di tingkat pusat hingga daerah. Tujuannya agar setiap langkah pembangunan ekonomi tetap berpijak pada nilai-nilai luhur Pancasila.
Salah satu usulan konkret yang ditawarkan melalui buku ini adalah pembentukan Rancangan Undang-Undang (RUU) Perekonomian Nasional dan Sosial. Regulasi ini dirancang untuk menggantikan corak ekonomi liberal yang dinilai belum terintegrasi dengan baik.
Rancangan tersebut mencakup 31 kebijakan strategis yang dijabarkan dalam 148 pasal. Fokus utama dari regulasi ini adalah mengembalikan semangat Pasal 33 UUD 1945 sebagai fondasi utama penyelenggaraan perekonomian nasional.
Penyusunan buku ini menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif melalui kajian mendalam atas pidato dan literatur pemikiran Soemitro. Tim penulis juga melakukan wawancara dengan berbagai pihak yang memiliki kedekatan historis dengan ekonom senior tersebut.
Salah satu gagasan Soemitro yang diangkat kembali adalah pentingnya proteksionisme dan penguatan kedaulatan ekonomi nasional. Konsep ini dinilai sangat krusial dalam pengelolaan sumber daya alam agar lebih berpihak kepada kepentingan negara.
Pengelolaan sumber daya alam melalui satu pintu diyakini dapat meminimalisir praktik kecurangan perdagangan internasional. Hal ini mencakup upaya pencegahan praktik transfer pricing serta under invoicing yang selama ini merugikan negara.
Buku ini ditujukan bagi berbagai lapisan pembaca, mulai dari akademisi, mahasiswa, hingga masyarakat umum. Penulis berharap karya ini dapat memberikan pemahaman komprehensif mengenai ekonomi politik dan implementasi kebijakan ekonomi bagi pemula.
Hingga Rabu, 5 Agustus 2026, diskursus mengenai ekonomi Pancasila kembali mengemuka di ruang publik. Peluncuran buku ini menjadi bagian dari upaya intelektual untuk menyelaraskan kebijakan negara dengan cita-cita kemandirian ekonomi nasional.






