Bursa Saham

Suspensi Dicabut BEI, Saham COAL Langsung Melesat 8,7% Hari Ini

58
×

Suspensi Dicabut BEI, Saham COAL Langsung Melesat 8,7% Hari Ini

Sebarkan artikel ini
Grafik pergerakan harga saham PT Black Diamond Resources Tbk di Bursa Efek Indonesia
Saham PT Black Diamond Resources Tbk (COAL) menguat 8,7% setelah Bursa Efek Indonesia mencabut suspensi perdagangan.

JAKARTA – Saham PT Black Diamond Resources Tbk (COAL) mencatatkan kenaikan harga sebesar 8,7% pada perdagangan Jumat (7/8/2026). Saham emiten tersebut menguat ke level Rp 25 per lembar setelah Bursa Efek Indonesia (BEI) mencabut status suspensi perdagangan.

Hingga pukul 11.25 WIB, saham COAL tercatat naik 2 poin dibandingkan dengan harga penutupan sebelum penghentian sementara diberlakukan. Perdagangan saham ini kembali aktif di Pasar Reguler dan Pasar Tunai sejak sesi Periodic Call Auction pada Kamis (6/8/2026).

Pencabutan suspensi ini dilakukan otoritas bursa setelah pihak manajemen perusahaan memenuhi kewajiban administratif yang tertunda. Sebelumnya, BEI menjatuhkan sanksi suspensi sejak 30 Juli 2026 akibat keterlambatan penyampaian laporan keuangan interim per 31 Maret 2026.

Kepala Divisi Peraturan dan Layanan Perusahaan Tercatat BEI, Teuku Fahmi Ariandar, menyatakan bahwa perusahaan telah menyelesaikan seluruh kewajiban pelaporan yang menjadi dasar pembekuan efek. Saat ini, tidak terdapat kondisi lain yang menghalangi perdagangan saham perusahaan tersebut.

Meskipun perdagangan telah dibuka kembali, saham COAL masih tercatat berada dalam Papan Pemantauan Khusus. BEI mengimbau investor untuk tetap mencermati keterbukaan informasi perusahaan sebelum mengambil keputusan investasi.

Kinerja keuangan perusahaan per kuartal I-2026 menunjukkan tantangan operasional yang signifikan. Black Diamond Resources mencatatkan rugi bersih sebesar Rp 8,29 miliar, berbanding terbalik dengan posisi laba bersih Rp 5,39 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Penurunan performa ini dipicu oleh nihilnya pendapatan selama kuartal pertama tahun 2026. Sebagai perbandingan, pada periode yang sama tahun 2025, perusahaan mampu membukukan pendapatan sebesar Rp 126,52 miliar.

Kondisi keuangan tersebut berdampak pada rugi per saham dasar yang tercatat sebesar Rp 1,32 per saham. Padahal, pada kuartal I-2025, perusahaan masih mencatatkan laba per saham sebesar Rp 0,86.

Dari sisi neraca, total aset perseroan per 31 Maret 2026 tercatat meningkat 2,71% menjadi Rp 824,80 miliar dari posisi akhir tahun 2025 sebesar Rp 803,02 miliar. Namun, posisi kas dan bank justru mengalami kontraksi tajam sebesar 98,37% menjadi Rp 233,03 juta.

Peningkatan juga terjadi pada sisi liabilitas sebesar 6,88% menjadi Rp 466,94 miliar. Sementara itu, total ekuitas perusahaan turun 2,26% menjadi Rp 357,86 miliar akibat berkurangnya saldo laba belum dicadangkan.

Di pasar modal yang lebih luas, pergerakan emiten lain juga menjadi sorotan, seperti PT Indosat Tbk (ISAT). Emiten telekomunikasi tersebut dikabarkan berpotensi membagikan dividen spesial pasca merampungkan divestasi aset fiber optik melalui PT Infra Fiber Teknologi (IFT).