JAKARTA – Sektor emiten properti kawasan industri di Indonesia menunjukkan kinerja yang bervariasi sepanjang semester pertama tahun 2026. Perbedaan capaian laba dan pendapatan ini dipicu oleh pola pengakuan penjualan lahan yang bersifat tidak merata serta perbedaan struktur biaya masing-masing perusahaan.
PT Puradelta Lestari Tbk (DMAS) mencatatkan pertumbuhan signifikan dengan pendapatan usaha mencapai Rp 1,80 triliun pada semester I 2026. Angka tersebut melonjak hampir tiga kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang tercatat sebesar Rp 613,36 miliar.
Sejalan dengan kenaikan pendapatan, laba bersih DMAS tumbuh 175,34% menjadi Rp 1,19 triliun. Capaian ini didorong oleh kuatnya permintaan lahan industri, terutama dari sektor pusat data atau data center.
PT Surya Semesta Internusa Tbk (SSIA) turut mencatatkan kinerja positif dengan pendapatan usaha sebesar Rp 3,3 triliun. Angka ini naik 58,39% dibandingkan periode serupa tahun lalu.
SSIA berhasil membalikkan kondisi keuangan dari rugi bersih menjadi laba bersih sebesar Rp 262,55 miliar pada akhir kuartal II 2026. Pemulihan ini didukung oleh pengakuan penjualan lahan industri serta membaiknya kinerja bisnis perhotelan.
Sementara itu, PT Bekasi Fajar Industrial Estate Tbk (BEST) mencatat pendapatan sebesar Rp 380,42 miliar per kuartal II 2026, yang mencerminkan kenaikan 303,35% secara tahunan (year on year). Kendati demikian, perusahaan masih membukukan rugi bersih sebesar Rp 144,32 miliar pada akhir Juni 2026.
Di sisi lain, PT Kawasan Industri Jababeka Tbk (KIJA) membukukan pendapatan konsolidasian sebesar Rp 2,43 triliun, atau terkoreksi 11% dibandingkan tahun lalu. Perusahaan mencatatkan rugi bersih sebesar Rp 6,4 miliar pada periode tersebut.
Manajemen KIJA menyatakan bahwa rugi bersih tersebut dipicu oleh beban non-operasional bersifat satu kali (one-off). Beban ini muncul akibat langkah strategis refinancing Senior Notes berdenominasi dolar AS menjadi pinjaman bank dalam mata uang rupiah.
Analis menilai bisnis kawasan industri memiliki karakteristik lumpy atau tidak merata dalam pengakuan pendapatannya. Hal ini dikarenakan nilai transaksi lahan yang besar tidak selalu terjadi di setiap kuartal.
Secara sektoral, prospek bisnis kawasan industri dinilai masih positif hingga akhir tahun 2026. Permintaan lahan terutama datang dari sektor pusat data, kendaraan listrik, baterai, serta kebutuhan logistik dan manufaktur.
Para analis merekomendasikan investor untuk tetap selektif dalam mencermati kinerja emiten. Faktor utama yang perlu diperhatikan meliputi arus investasi asing langsung (FDI), stabilitas nilai tukar rupiah, serta kecepatan realisasi penjualan lahan.
Kinerja emiten seperti SSIA, DMAS, dan BEST diprediksi akan terus menguat seiring dengan tingginya minat industri. Sementara itu, KIJA berpotensi mengalami pemulihan laba karena beban refinancing bersifat sementara dan tidak akan terulang di masa depan.






