Tutup
Teknologi

Indonesia Berada di Persimpangan Teknologi, Kolaborasi Jadi Kunci

358
×

Indonesia Berada di Persimpangan Teknologi, Kolaborasi Jadi Kunci

Sebarkan artikel ini
indonesia-berada-di-persimpangan
Indonesia Berada di Persimpangan

Jakarta – kolaborasi menjadi kunci utama bagi industri di Indonesia untuk mengatasi tantangan adopsi teknologi terkini seperti AI dan cloud computing. Hal tersebut diungkapkan oleh Managing Director Hewlett Packard Enterprise (HPE) Indonesia, Meygin Agustina.

Meygin Agustina menjelaskan, pelaku industri di Indonesia cenderung mempertahankan pola pikir konvensional dan solusi teknologi lama. Menurutnya, hal ini disebabkan oleh minimnya talenta digital dan ekosistem digital yang belum memadai.

“Different countries, different challenges. Kalau di ‍Indonesia, kami sudah keliling ke semua pelanggan di segala macam segmen. They want to know what to do. Karena mereka masih konvensional (pola pikirnya). Masih nyaman dengan solusi sebelumnya,” ujarnya beberapa waktu lalu di Jakarta.

Lebih lanjut, Meygin Agustina menjelaskan, ketika industri ingin beralih ke teknologi yang lebih canggih seperti genAI dan agentic AI, mereka terhambat oleh kesiapan talenta digital dan keterbatasan ekosistem digital. “Karena itu (talenta digital) enggak cuma sebagai user tapi create untuk develop. Itu biggest challenge. Lalu, ekosistem digital yang belum terbentuk. Indonesia disebut masih berada pada level medium. sebaliknya, negara-negara seperti Singapura contohnya sudah maju pada level advance, bahkan tahap developer seperti Amerika Serikat (AS),” ungkapnya.

Oleh karena itu, Meygin Agustina menekankan pentingnya kolaborasi. “Inovasi tanpa kolaborasi it’s sitting nowhere. Jadi kuncinya di situ (kolaborasi),” tegasnya.

Selain itu, meningkatnya risiko keamanan teknologi informasi (TI) juga menjadi perhatian. Kerugian global akibat serangan siber diperkirakan mencapai Rp10,5 triliun, termasuk serangan ransomware yang menargetkan infrastruktur digital dan rantai pasok perusahaan.

Untuk mengatasi hal ini, perusahaan membutuhkan pusat data yang efisien.HPE menawarkan platform Compute Ops Management yang memungkinkan pelanggan memantau dan mengelola server berbasis cloud dengan bantuan AI. Sistem ini dapat memprediksi konsumsi daya dan emisi karbon, serta menyederhanakan pengaturan awal perangkat secara otomatis, bahkan di lokasi terpencil tanpa staf TI.

Fitur visual berbasis peta dan integrasi dengan alat pihak ketiga dapat mengurangi waktu henti (downtime) hingga 4,8 jam per server per tahun. HPE juga menyediakan Power Advisor, alat perencanaan mandiri untuk membantu pelanggan memperkirakan dampak lingkungan dan operasional dari penggunaan teknologi mereka.

Server HPE ProLiant Gen12 dirancang untuk menangani beban kerja berat seperti AI, big data analytics, hybrid cloud, dan virtual desktop infrastructure (VDI). Dibandingkan generasi sebelumnya, server ini menawarkan peningkatan efisiensi performa per watt hingga 41 persen dan penghematan daya tahunan hingga 65 persen.

Meygin Agustina mengatakan, “Satu unit Gen12 mampu menggantikan tujuh unit dari generasi Gen10, memungkinkan pembebasan ruang dan daya di data center.”

Untuk lingkungan operasional yang membutuhkan efisiensi termal tinggi, HPE menawarkan opsi direct liquid cooling (DLC), sistem pendingin berbasis cairan yang 3.000 kali lebih efektif dibandingkan udara.

Selain perangkat keras, HPE juga bekerja sama dengan NVidia untuk menghadirkan solusi yang mengoptimalkan fungsi AI di sistem server HPE ProLiant Gen12.

Meygin Agustina menambahkan bahwa HPE aktif mengembangkan ekosistem lokal melalui kolaborasi dengan startup dan program ISV (Self-reliant Software Vendor), serta inisiatif ICIP Community untuk mendorong pertumbuhan industri digital di Indonesia.

“Indonesia berada di persimpangan. Apakah menggunakan sistem konvensional atau beralih ke cloud. Kami menekankan pentingnya pendekatan hybrid untuk menjaga kedaulatan data dan efisiensi investasi,” pungkas Meygin Agustina.