Tutup
Regulasi

Yield Obligasi Naik, Biaya Utang Korporasi Berpotensi Melonjak di Akhir 2026

85
×

Yield Obligasi Naik, Biaya Utang Korporasi Berpotensi Melonjak di Akhir 2026

Sebarkan artikel ini

JAKARTA – Biaya pendanaan (cost of fund) untuk obligasi korporasi di Indonesia tercatat masih lebih rendah dibandingkan tahun lalu. Meski demikian, tren suku bunga kini mulai menunjukkan sinyal kenaikan akibat meningkatnya tekanan pasar global.

Berdasarkan data PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo), rata-rata kupon obligasi korporasi tenor tiga tahun pada kuartal I-2026 mengalami penurunan signifikan dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.

Bagi emiten dengan peringkat AAA, rata-rata kupon tenor tiga tahun kini berada di kisaran 5,5%. Angka ini jauh lebih kompetitif jika dibandingkan dengan puncak kupon pada periode 2018-2019 yang sempat menembus level 8,5% hingga 9,0%.

Serupa dengan itu, surat utang peringkat AA juga mencatatkan penyusutan kupon. Jika pada kuartal I-2025 rata-rata kupon masih bertengger di atas 7,0%, kini pada periode yang sama di tahun 2026, angkanya melandai ke rentang 5,5% hingga 6,0%.

Penurunan biaya pendanaan ini sejalan dengan kebijakan Bank Indonesia yang memangkas suku bunga acuan dari 5,75% pada kuartal I-2025 menjadi 4,75% saat ini. Namun, tren penurunan tersebut kini mulai tertahan seiring naiknya imbal hasil (yield) obligasi pemerintah.

Saat ini, yield obligasi negara tenor 10 tahun tercatat naik ke level 6,5%, dari posisi awal tahun di 6%. Kenaikan ini dipicu oleh berbagai sentimen negatif, mulai dari ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah, kenaikan yield US Treasury, lonjakan harga energi, hingga pelemahan nilai tukar rupiah.

Kondisi tersebut membuat ruang penurunan biaya pendanaan bagi korporasi semakin terbatas. Para analis juga mencatat adanya indikasi pelebaran spread (selisih) pada obligasi korporasi, terutama bagi perusahaan dengan peringkat kredit yang lebih rendah.

Di sisi lain, bagi emiten dengan profil kredit tinggi, pergerakan yield cenderung lebih stabil dan masih mengikuti arah pergerakan Surat Berharga Negara (SBN).

Ke depan, tekanan di pasar obligasi diperkirakan masih berlanjut jika sentimen global tetap negatif. Investor pun diprediksi akan bersikap lebih selektif dan menuntut premi risiko yang lebih tinggi.

Meski terdapat risiko penurunan volume penerbitan obligasi pada sisa tahun 2026, kebutuhan untuk pembiayaan kembali (refinancing) yang mencapai Rp124,12 triliun hingga akhir tahun diprediksi akan menjaga aktivitas pasar tetap berjalan.

Pefindo tetap optimistis penerbitan surat utang korporasi tahun ini akan tetap semarak di rentang Rp154,00 triliun hingga Rp196,86 triliun. Sebagai langkah adaptasi, emiten diperkirakan akan menyesuaikan strategi pendanaan dengan memilih tenor yang lebih pendek atau menunda transaksi yang belum mendesak.

Regulasi

SumbarSumbarbisnis.com – JAKARTA. Pergerakan harga emas terpantau mengalami fluktuasi sejak awal tahun 2026. Meski begitu, emas masih menjadi salah satu portofolio investasi yang dipilih investor. Berdasarkan data Trading Economics, harga emas dunia pada 2 Januari di level sekitar US$ 4.300 per troy ons. Lalu pada 28 Januari harga sempat menyentuh sekitar US$ 5.400 per troy ons. Berikutnya pada 23 Maret 2026 harga bergerak ke level sekitar US$ 4.400 per…

Regulasi

SumbarSumbarbisnis.com JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka menguat pada perdagangan Kamis (16/4/2026), sejalan dengan sentimen positif dari bursa global. Berdasarkan data RTI pukul 09.07 WIB, IHSG naik 1,04% atau 79,284 poin ke level 7.702,870. Sebanyak 393 saham menguat, 135 saham melemah, dan 176 saham bergerak stagnan. Volume perdagangan tercatat mencapai 3,9 miliar saham dengan nilai transaksi Rp 1,6 triliun. Baca Juga: Rupiah Dibuka…

Regulasi

SumbarSumbarbisnis.com JAKARTA. Harga emas batangan bersertifikat Antam keluaran Logam Mulia PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) turun pada Kamis (16/4/2026). Mengutip situs Logam Mulia, harga pecahan satu gram emas Antam berada di Rp 2.888.000. Harga emas Antam itu turun Rp 5.000 jika dibandingkan dengan harga pada Rabu (15/4/2026) yang berada di level Rp 2.893.000 per gram. Sementara harga buyback emas Antam berada di level Rp 2.674.000 per gram. Harga…

Regulasi

SumbarSumbarbisnis.com JAKARTA. PT Pelat Timah Nusantara Tbk (NIKL) menganggarkan belanja modal alias capital expenditure (capex) sekitar US$ 2,1 juta pada tahun 2026. Dana ini difokuskan untuk mendukung peningkatan operasional pabrik sekaligus menjaga daya saing Latinusa di tengah kondisi pasar yang masih menantang. Dari total anggaran tersebut, alokasi capex akan digunakan untuk machinery & equipment sebesar US$ 1,8 juta dan supporting equipment…