Otomotif

Kinerja Astra Otoparts (AUTO) Tertekan, Dampak Covid-19

798
×

Kinerja Astra Otoparts (AUTO) Tertekan, Dampak Covid-19

Sebarkan artikel ini
Foto: Internet

Penurunan pendapatan dari segmen pasar original equipment manufacturer dan pasar suku cadang pengganti menekan kinerja keuangan PT Astra Otoparts Tbk. pada semester I/2020.

Wanny Wijaya direktur Astra Otoparts menjelaskan dampak dari pandemi covid-19 yang juga ikut melanda dunia otomotif. Terkhusus pada periode kuartal II/2020.

“Pada semester I/2020, perseroan membukukan rugi bersih sebesar Rp296 miliar dibandingkan dengan laba bersih sebesar Rp246 miliar pada periode yang sama tahun lalu,” ujarnya melalui siaran pers, Selasa (25/8/2020).

Wanny menjelaskan jika penurunan utama disebabkan oleh pendapatan dari pasar original equipment manufacturer (OEM) mengalami pemerosotan. Selain itu selama periode semester I/2020 penurunan juga terjadi pada pasar suku cadang.

Lanjutnya, Wanny mengatakan jika segmen usaha manufaktur memberi kontribusi sekitar 45 persen atau Rp 2,35 Triliun dari total pendapatan perseroan. Untuk itu, AUTO memproduksi komponen dan rangkaian baik ke pasar pabrikan otomotif maupun pasar suku cadang pengganti untuk kendaraan roda dua, roda empat, serta komersial.

“[Total penjualan usaha] Turun sebesar 36 persen dari tahun lalu disebabkan penurunan penjualan di industri otomotif karena pandemi Covid-19,” paparnya.

Selain itu, segmen usaha perdgangan juga turun 13 persen secara tahun menjadi Rp3,12 Triliun. Lini usaha dengan kontribusi sebesar 55 persen terhadap total pendapatan bersih semester I/2020 itu juga terdampak kondisi pandemi Covid-19.

Di tengah kondisi itu, ia juga menambahkan jika perseroan menempatkan fokus pada pengendalian operasional dan investasi.

“Per 30 Juni 2020, neraca perseroan tetap kuat dengan rasio utang terhadap ekuitas dapat terjaga sehat dan stabil,” imbuhnya.

Otomotif

SumbarSumbarbisnis.com JAKARTA. Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali melemah pada Kamis (4/6/2026). Mengutip Bloomberg, rupiah di pasar spot melemah 0,46% secara harian ke Rp 18.049 per dolar AS. Jika dihitung sejak awal tahun 2026, posisi mata uang Garuda itu telah anjlok 7,91% dibanding posisi awal tahun di level Rp 16.725 per dolar AS. Nah, kondisi rupiah yang semakin mengkhawatirkan ini berpotensi menekan kinerja emiten di…