Jakarta – Di tengah pasar keuangan yang bergejolak, Direktur Utama PT Abadi Lestari Indonesia Tbk (RLCO), Edwin Pranata, tetap teguh dengan strategi investasi jangka panjang. Ia percaya, kunci sukses berinvestasi terletak pada fokus terhadap fundamental perusahaan dan pengelolaan risiko yang terukur.
Edwin menekankan pentingnya horizon investasi minimal dua tahun. Dengan begitu, potensi pertumbuhan investasi dapat terealisasi optimal.
“Horizonnya bisa dua tahun minimal atau bahkan lebih,” ujarnya.
Lebih lanjut, Edwin juga menekankan pemahaman mendalam terhadap instrumen investasi yang dipilih. Menurutnya, ini penting agar keputusan investasi dapat diambil secara terukur.
Filosofi investasi jangka panjang ini lahir dari pengalamannya di pasar modal. Ia mengaku sebagai investor dengan profil risiko *moderate to high risk*, namun bukan tipe investor jangka pendek.
Selain valuasi dan fundamental tradisional, Edwin juga mempertimbangkan tren pasar, likuiditas, dan potensi pertumbuhan.
Ketertarikan Edwin pada investasi berawal dari pendidikannya di bidang keuangan. Ia mulai aktif berinvestasi saham pada tahun 2015, dengan fokus awal pada sektor perbankan domestik yang dinilai stabil.
Pengalaman paling berkesan didapat saat pandemi Covid-19, ketika ia berinvestasi pada saham perbankan digital. “Awalnya hanya iseng melihat tren, tapi pergerakan bank digital luar biasa. Portofolio naik lebih dari seribu persen,” ungkapnya.
Saat ini, Edwin mengelola portofolio yang terdiversifikasi. Alokasinya meliputi 60% saham, 15% properti, dan 25% investasi pada barang eksotis.
Bagi investor pemula, Edwin berpesan agar berani memulai investasi, meski dengan nominal kecil. Ia juga mengingatkan untuk memahami risiko sebelum mengikuti tren dan membangun pola pikir jangka panjang.
“Investasi itu maraton, bukan lomba jarak pendek. Jangan berharap hasil instan,” tegasnya.
Di luar instrumen keuangan, Edwin berpendapat bahwa investasi terpenting adalah pada diri sendiri, atau yang disebutnya investasi ‘leher ke atas’.
Menurutnya, nilai terbesar dari investasi adalah peningkatan kualitas diri, termasuk kesehatan, pengetahuan, dan pola pikir.
Kesehatan adalah fondasi utama, karena tanpa kondisi fisik dan mental yang baik, seseorang sulit berpikir jernih.
Pengetahuan menjadi modal penting untuk bersaing, sementara pola pikir menentukan cara menghadapi risiko dan ketidakpastian pasar.
Edwin meyakini, keberhasilan seorang investor lebih ditentukan oleh cara berpikir dan karakter dalam menghadapi dinamika pasar, bukan semata-mata instrumen yang dipilih.







