Jakarta – Laporan terbaru OpenSignal edisi Desember 2025 menyoroti performa layanan 5G di Indonesia.Telkomsel tercatat unggul dalam sejumlah indikator utama dibandingkan operator lain.
Laporan Mobile Network Experience menunjukkan Telkomsel meraih nilai tertinggi dalam pengalaman video 5G. Selain itu, kecepatan unduh dan unggah 5G serta konsistensi kualitas jaringan juga menjadi keunggulan Telkomsel.Telkomsel juga memimpin dalam kategori Coverage Experience dan Availability experience 5G. Hal ini mengindikasikan kualitas 5G tidak hanya bergantung pada perluasan jaringan semata.
Dosen STEI-ITB, ian Yosef Matheus Edward, menjelaskan performa 5G sangat dipengaruhi oleh ketersediaan spektrum frekuensi yang memadai.
“Lebar dan kontinuitas spektrum menjadi kunci utama,” ujar Ian, Minggu (22/2/2026). “Operator dengan spektrum yang lebih lebar dan tersusun kontinyu akan lebih optimal.”
selain spektrum, infrastruktur backbone yang kuat juga berkontribusi pada konsistensi pengalaman pengguna.
Namun,penetrasi 5G di Indonesia masih tergolong rendah,sekitar 10 persen. Angka ini jauh tertinggal dibandingkan negara lain di Asia yang mencapai 50 persen.
Ian menilai keterbatasan spektrum, harga perangkat yang mahal, dan model bisnis yang masih berkembang menjadi faktor penghambat.
Idealnya, satu operator seluler memiliki alokasi sekitar 100 MHz spektrum untuk layanan 5G optimal. Namun, dengan 50 MHz yang kontinyu di pita TDD, layanan 5G sudah dapat berjalan dengan baik.
Saat ini, sebagian operator masih mengoptimalkan spektrum yang digunakan untuk 4G. Akibatnya, implementasi 5G berjalan berdampingan dengan 4G.
Ke depan, kebijakan pengelolaan spektrum perlu dirancang untuk mendorong investasi jaringan yang berkelanjutan dan pemerataan akses.”Jika spektrum dikelola dengan struktur biaya yang rasional dan diberikan kepada operator seluler yang memiliki komitmen membangun secara luas, manfaat akhirnya akan dirasakan masyarakat,” pungkas Ian.






